<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Literasi Keagamaan Lintas Budaya Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<atom:link href="https://indonesiawatch.id/tag/literasi-keagamaan-lintas-budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/literasi-keagamaan-lintas-budaya/</link>
	<description>Melihat Indonesia Dalam Berita</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Nov 2024 05:47:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.4</generator>

<image>
	<url>https://indonesiawatch.id/wp-content/uploads/2024/06/cropped-logo-IW-1-e1719970085662-32x32.png</url>
	<title>Literasi Keagamaan Lintas Budaya Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/literasi-keagamaan-lintas-budaya/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menag Dorong Pengembangan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/menag-dorong-pengembangan-program-literasi-keagamaan-lintas-budaya/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/menag-dorong-pengembangan-program-literasi-keagamaan-lintas-budaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2024 05:47:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Alwi Shihab]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Leimena]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Keagamaan Lintas Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Menag]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Nasaruddin Umar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=4201</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Indonesiawatch.id &#8211; Menteri Agama (Menag) Prof. K.H. Nasaruddin Umar Dalam mendorong pengembangan program Literasi...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/menag-dorong-pengembangan-program-literasi-keagamaan-lintas-budaya/">Menag Dorong Pengembangan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Indonesiawatch.id</strong> &#8211; Menteri Agama (Menag) Prof. K.H. Nasaruddin Umar Dalam mendorong pengembangan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang sejauh ini telah meluluskan 9.160 guru dan pendidik dari 37 provinsi di Indonesia.</p>
<p>Hal itu disampaikan Menag saat menggelar audiensi dengan Senior Fellow <a href="https://leimena.org/"><strong>Institut Leimena</strong></a>, Alwi Shihab, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, di Jakarta pada Jumat, 1 November 2024.</p>
<p>“Apa yang kita gagas bersama, bisa dilanjutkan, dikembangkan karena itu sangat membantu bangsa ini,” kata Prof. Nasaruddin Umar yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal.</p>
<p>Masjid Istiqlal merupakan salah satu mitra awal Institut Leimena dalam pelaksanaan program LKLB yang dimulai tahun 2021. Kerja sama program LKLB antara Masjid Istiqlal dan Institut Leimena telah dilaksanakan dalam 11 kelas dengan jumlah peserta lulus dari Masjid Istiqlal mencapai 1.400 orang terdiri dari guru, kader ulama, dan penyuluh agama.</p>
<p>Dalam audiensinya, Menag Nasaruddin mengatakan program LKLB juga perlu diakomodir kepada guru-guru di pondok pesantren, sebagaimana telah dijalankan Institut Leimena bersama Pondok Pesantren Asadiyah dan Pondok Pesantren Al-Ikhlas di Sulawesi Selatan.</p>
<p>Sementara itu, Alwi Shihab menyampaikan pendekatan LKLB memperkuat kebijakan moderasi beragama yang menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Pendekatan LKLB bisa menjadi pedagogi dari konsep moderasi beragama.</p>
<p>“Di sini sudah ada program moderasi beragama sebenarnya sangat sejalan dgn LKLB sehingga bisa dikawinkan,” kata Alwi yang merupakan Menteri Luar Negeri RI tahun 1999-2001 dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Timur Tengah dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tahun 2015-2019.</p>
<p>Alwi menjelaskan program LKLB melatih para guru untuk mengembangkan interaksi harmonis, saling menghormati, dan kolaborasi positif lintas agama. Menurutnya, intoleransi masih tumbuh subur di Indonesia bukan semata disebabkan kebencian, melainkan karena kesalahpahaman ajaran agama.</p>
<p>Karena itu, LKLB menjadi semakin penting disampaikan kepada guru agar bisa meneruskan kepada para siswa sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. “Guru berada di garda terdepan untuk melindungi komunitasnya dari pengaruh intoleransi beragama dan ekstremisme. Sayangnya, kita mengamati bahwa meningkatnya radikalisme di lembaga-lembaga pendidikan dikaitkan dengan model penafsiran, pemahaman, dan pengajaran, serta aliran pemikiran tertentu,” tutur Alwi Shihab.</p>
<p>Di kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, juga menyampaikan harapan yang sama. Matius menyambut baik rencana pengembangan program LKLB dengan dorongan dari Kementerian Agama RI, termasuk pelaksanaan webinar internasional seri LKLB.</p>
<p>“Kami semua di Institut Leimena luar biasa ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepada Bapak. Tuhan menempatkan Bapak untuk kepentingan bangsa,” kata Matius.</p>
<p><strong>[red]</strong></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/menag-dorong-pengembangan-program-literasi-keagamaan-lintas-budaya/">Menag Dorong Pengembangan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/menag-dorong-pengembangan-program-literasi-keagamaan-lintas-budaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kuatnya Polarisasi di Era Digital, Mendikdasmen Ingatkan Pemuda sebagai Pemersatu</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/kuatnya-polarisasi-di-era-digital-mendikdasmen-ingatkan-pemuda-sebagai-pemersatu/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/kuatnya-polarisasi-di-era-digital-mendikdasmen-ingatkan-pemuda-sebagai-pemersatu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Oct 2024 12:28:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Institut Leimena]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Keagamaan Lintas Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Matius Ho]]></category>
		<category><![CDATA[Mendikdasmen]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Abdul Mut'i]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=4091</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Indonesiawatch.id – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Prof. Abdul Mu’ti...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/kuatnya-polarisasi-di-era-digital-mendikdasmen-ingatkan-pemuda-sebagai-pemersatu/">Kuatnya Polarisasi di Era Digital, Mendikdasmen Ingatkan Pemuda sebagai Pemersatu</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Indonesiawatch.id</strong> – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Prof. Abdul Mu’ti mengingatkan peran pemuda sebagai kekuatan pemersatu dalam menghadapi tantangan polarisasi di era digital. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 menjadi bukti sejarah akan lahirnya semangat ke-Indonesiaan meski saat itu Indonesia belum berdiri sebagai negara dan masih terpecah berdasarkan suku, ras, agama, dan  bahasa.</p>
<p>“Momentum peringatan Sumpah Pemuda menjadi bagian penting dari penegasan tentang peranan kaum muda dalam memajukan bangsa dan negaranya, dan betapa pentingnya peranan kaum muda sebagai kekuatan pemersatu,” kata Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dalam rangka Hari Sumpah Pemuda yang diadakan Maarif Institute dan Institut Leimena pada Jumat, 25 Oktober 2024.</p>
<p>Webinar Internasional LKLB kali ini mengambil tema “Peran Pemuda di Era Digital dalam Memperkuat Kerja Sama Lintas Agama dan Budaya di Dunia yang Terpolarisasi”. Webinar tersebut diisi sambutan dari Direktur Maarif Institute, Andar Nubowo, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.</p>
<p>Abdul Mu’ti yang masih menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengatakan, Sumpah Pemuda yang akan diperingati tanggal 28 Oktober adalah tonggak sejarah penting dalam rangkaian menuju kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi tonggak bagi lahirnya kedaulatan Indonesia dalam hal kedaulatan budaya (<em>cultural sovereignty</em>), kedaulatan politik (<em>political sovereignty</em>), dan kedaulatan wilayah (<em>territorial sovereignty</em>).</p>
<p>Kedaulatan budaya terwujud dalam kesepakatan para pemuda dari berbagai organisasi keagamaan dan kedaerahan untuk bersama-sama menyatakan bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia. Abdul Mu’ti mengatakan belum ada dalam catatan sebuah negara seperti Indonesia yang memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, lebih dari 300 suku bangsa, dan ribuan pulau baik besar maupun kecil.</p>
<p>Kedaulatan politik artinya Sumpah Pemuda menjadi momentum Indonesia secara politik menyatakan kemerdekaan. Sedangkan, kedaulatan wilayah ditandai dengan pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan setelah perjuangan panjang mantan perdana menteri, Ir. Djuanda Kartawidjaja, dalam berbagai lobi politik internasional.</p>
<p>“Dalam konteks sejarah, menurut saya Sumpah Pemuda merupakan capaian politik yang tidak mudah karena Indonesia saat itu masih terdiri dari banyak sekali Kerajaan dan banyak sekali budaya dan bahasa,” ujarnya.</p>
<p>Mendikdasmen mengatakan, Sumpah Pemuda menghadapi tantangan karena munculnya sejumlah kecenderungan dalam era digital saat ini. Di satu sisi, era digital memudahkan orang berinteraksi dengan siapa, kapan, dan dimana saja, namun di sisi lain cenderung menjebak dalam kedangkalan berpikir. Orang tidak berpikir secara utuh dan mendalam, sebaliknya <em>jumping to conclusion</em>, sehingga menyebabkan pengambilan sikap yang keliru.</p>
<p>Era digital juga membuat kecenderungan konformitas, yaitu orang-orang merasa nyaman berhimpun dengan mereka yang sepaham atau kelompoknnya sendiri. Ditambah, kecenderungan seseorang mengakses berbagai macam informasi digital bukan demi mencari kebenaran, namun demi mencari pembenaran.</p>
<p>“Ini menjadi persoalan serius sehingga teknologi digital kadang menimbulkan bukan masyarakat semakin dekat, tapi bisa berdampak kepada pembelahan sosial, <em>divided</em> atau <em>exclusive society</em>,” ujarnya.</p>
<p>Mendikdasmen menyatakan, pemuda perlu bersikap terbuka terhadap perbedaan seperti teladan para pemuda masa lalu saat mengikrarkan Sumpah Pemuda. Para pemuda masa itu membangun sebuah entitas baru bernama Indonesia, tanpa meninggalkan identitas kultural mereka antara lain sebagai Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, Jong Celebes, atau Jong Islamieten Bond.</p>
<p>“Generasi muda, generasi milenial, atau generasi Y dan Z, memang perlu berinteraksi lebih terbuka dengan yang lain dan perlu disediakan ruang-ruang perjumpaan lebih banyak,” ujar Abdul Mu’ti.</p>
<p>Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini menghadirkan lima panelis yaitu Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Masjid Istiqlal, Dr. Farid F. Saenong, Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Riandy Prawita, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho.</p>
<p>Selanjutnya, Kepala Biro Beijing Antara News, Desca Lidya Natalia, dan Senior Fellow Comparative Religion di Jackson School of International Studies, University of Washington, Dr. Chris Seiple.</p>
<p><strong>[red]</strong></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/kuatnya-polarisasi-di-era-digital-mendikdasmen-ingatkan-pemuda-sebagai-pemersatu/">Kuatnya Polarisasi di Era Digital, Mendikdasmen Ingatkan Pemuda sebagai Pemersatu</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/kuatnya-polarisasi-di-era-digital-mendikdasmen-ingatkan-pemuda-sebagai-pemersatu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: indonesiawatch.id @ 2026-11-05 07:57:58 by W3 Total Cache
-->