<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PMI Manufaktur Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<atom:link href="https://indonesiawatch.id/tag/pmi-manufaktur/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/pmi-manufaktur/</link>
	<description>Melihat Indonesia Dalam Berita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Dec 2024 04:37:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://indonesiawatch.id/wp-content/uploads/2024/06/cropped-logo-IW-1-e1719970085662-32x32.png</url>
	<title>PMI Manufaktur Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/pmi-manufaktur/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PMI Manufaktur Indonesia Anjlok Terus, PMI Manufaktur China Malah Melonjak</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/pmi-manufaktur-indonesia-anjlok-terus-pmi-manufaktur-china-malah-melonjak/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/pmi-manufaktur-indonesia-anjlok-terus-pmi-manufaktur-china-malah-melonjak/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Dec 2024 04:35:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[manufaktur china]]></category>
		<category><![CDATA[PMI Manufaktur]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=5103</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Indonesiawatch.id – Selama dua bulan berturut-turut, aktivitas manufaktur China menunjukkan lonjakan positif. Data Purchasing...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/pmi-manufaktur-indonesia-anjlok-terus-pmi-manufaktur-china-malah-melonjak/">PMI Manufaktur Indonesia Anjlok Terus, PMI Manufaktur China Malah Melonjak</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Indonesiawatch.id –</strong> Selama dua bulan berturut-turut, aktivitas manufaktur China menunjukkan lonjakan positif. Data Purchasing Managers&#8217; Index (PMI) manufaktur China naik menjadi 51,5 di November 2024. Angka tersebut tertinggi sejak Juni seperti dikutip dari Caixin dan <a href="https://www.spglobal.com/en">S&amp;P Global</a> (2/12).</p>
<p>Data tersebut menunjukkan bahwa pemulihan yang tidak merata sedang terjadi di seluruh perekonomian Asia. Indikator resmi aktivitas pada November hanya menunjukkan sedikit peningkatan di sektor manufaktur, sementara indeks konstruksi dan jasa secara tak terduga turun kembali ke level yang memisahkan kontraksi dari ekspansi.</p>
<blockquote>
<h6>Baca juga:<br />
<span style="color: #ff6600;"><a style="color: #ff6600;" href="https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/">Tantangan Ekonomi Prabowo, PMI Manufaktur Anjlok, Angka PHK Naik</a></span></h6>
</blockquote>
<p>Dilansir dari survei Bloomberg, penyebab membaiknya manufaktur China karena adanya peningkatan ekspor. Ekspor China dinilai telah menopang ekonomi di 2024 ini.</p>
<p>Dimana pengiriman dalam tiga kuartal pertama melonjak ke nilai tertinggi kedua yang pernah tercatat. Lonjakan ini menempatkan China pada jalur untuk mencapai rekor surplus perdagangan yang bisa mencapai hampir US$1 triliun tahun ini.</p>
<p>Salah satu negara tujuan ekspor China adalah Indonesia. Berdasarkan data BPS terbaru, impor Indonesia paling besar berasal dari China.</p>
<p>Jika ditotal, sepanjang Januari-Oktober tahun ini, nilai impor produk dari China juga naik sebesar 13,29% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Januari-Oktober 2024 nilai impor produk dari China sebesar USD 57,81 miliar.</p>
<p>Sebaliknya, PMI Manufaktur Indonesia malah terus terkontraksi. Hal ini menunjukkan Aktivitas manufaktur Indonesia memburuk dan kembali mengalami kontraksi di November 2024.</p>
<p>Selama lima bulan beruntun, PMI Manufaktur Indonesia mengalami koreksi. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&amp;P Global hari ini, Senin (2/12) mencatat bahwa PMI manufaktur Indonesia terkontraksi ke 49,6 pada November 2024.</p>
<p>Seperti diketahui, PMI Manufaktur Indonesia sudah mengalami kontraksi selama lima bulan beruntun yakni pada Juli (49,3), Agustus (48,9), September (49,2), Oktober (49,2), dan November 2024 (49,6).</p>
<p>Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan kondisi manufaktur antara China dan Indonesia. Hal ini menggambarkan perdagangan antara China dan Indonesia, tidak saling menguntungkan.</p>
<p><strong>[red]</strong></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/pmi-manufaktur-indonesia-anjlok-terus-pmi-manufaktur-china-malah-melonjak/">PMI Manufaktur Indonesia Anjlok Terus, PMI Manufaktur China Malah Melonjak</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/pmi-manufaktur-indonesia-anjlok-terus-pmi-manufaktur-china-malah-melonjak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tantangan Ekonomi Prabowo, PMI Manufaktur Anjlok, Angka PHK Naik</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Nov 2024 01:28:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Alfian Banjaransari]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[CME-ID]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Smith]]></category>
		<category><![CDATA[PMI Manufaktur]]></category>
		<category><![CDATA[S&P Global Market Intelligence]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=4177</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Indonesiawatch.id – Sektor manufaktur Indonesia lagi-lagi mengalami tekanan berat pada Oktober 2024. Kontraksi tersebut...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/">Tantangan Ekonomi Prabowo, PMI Manufaktur Anjlok, Angka PHK Naik</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Indonesiawatch.id</strong> – Sektor manufaktur Indonesia lagi-lagi mengalami tekanan berat pada Oktober 2024. Kontraksi tersebut memperpanjang mimpi buruk pada industri manufaktur selama empat bulan beruntun. Dampaknya terjadi gelombang PHK yang melanda sejumlah pabrik di Indonesia.</p>
<p>Data <em>Purchasing Manager’s Index </em>(PMI) yang dirilis S&amp;P Global pada Jumat (1/11) menunjukkan PMI manufaktur Indonesia terkontraksi ke-49,2 pada Oktober 2024. Angka ini tidak berubah dibandingkan September 2024. Tekanan sudah terjadi selama empat bulan, yakni pada Juli (49,3), Agustus (48,9), September (49,2), dan Oktober (49,2).</p>
<p>Kontraksi empat bulan beruntun ini mempertegas fakta bahwa kondisi manufaktur RI kini sangat buruk. Terakhir kali Indonesia mencatat kontraksi manufaktur selama empat bulan beruntun pada awal pandemi Covid-19 pada April-Juli 2020 di mana aktivitas ekonomi dipaksa berhenti karena kebijakan <em>lockdown</em> untuk mengurangi penyebaran virus.</p>
<p>Kontraksi PMI Manufaktur selama empat bulan beruntun pada Juli-Oktober 2024 juga menjadi awal berat bagi Presiden Prabowo Subianto yang baru dilantik pada 20 Oktober. Diketahui, PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, berarti dunia usaha sedang dalam fase ekspansi. Sementara level di bawah itu berarti kontraksi.</p>
<p>“Manufaktur Indonesia terus menunjukkan kinerja yang lesu pada Oktober, dengan produksi, pesanan baru, dan lapangan pekerjaan semuanya mengalami penurunan marginal sejak September,” tutur Direktur Ekonomi di S&amp;P Global Market Intelligence, Paul Smith dilansir dari<em> CNBC</em>.</p>
<p>S&amp;P mengungkap manufaktur Indonesia mengalami penurunan marginal dan tidak berubah angkanya karena melemahnya output, pesanan baru, dan tambahan lapangan pekerjaan. Kondisi ini mencerminkan lesunya pasar manufaktur serta tenaga kerja.</p>
<p>Tumpukan pekerjaan berkurang karena beban perusahaan dalam produksi berkurang menyusul berkurangnya pesanan. Stok barang pun jadi meningkat selama empat bulan beruntun.Yang mengkhawatirkan, keyakinan terhadap prospek ekonomi ke depan juga turun ke level terendah dalam empat bulan.</p>
<p>Paul menambahkan, pelaku bisnis melihat aktivitas pasar tidak memuaskan terutama karena ketidakpastian geopolitik yang menyebabkan kewaspadaan dan ketidakaktifan di antara klien. Inflasi biaya perusahaan mengecil bahkan di bawah tren historisnya karena kondisi pasar yang lesu.</p>
<p>“Perusahaan berharap bahwa kondisi operasional akan membaik di tahun mendatang dan berharap mendapatkan manfaat dari lingkungan makroekonomi yang lebih stabil untuk membantu memperluas aktivitas bisnis mereka dalam beberapa bulan mendatang,” imbuh Paul.</p>
<p>Dalam catatan S&amp;P, produksi dan pesanan baru turun pada Oktober sehingga memperpanjang tren penurunan menjadi empat bulan. Permintaan pasar yang lesu juga menjadi catatan khusus bagi pelaku usaha. Mereka juga melaporkan daya beli klien lebih rendah. “Hal ini umum terjadi di pasar domestik maupun internasional, dengan ketidakpastian geopolitik yang dilaporkan menyebabkan penurunan pesanan ekspor baru selama delapan bulan berturut-turut,” tulis S&amp;P dalam laporannya.</p>
<p>Bisnis yang lesu menyebabkan perusahaan mengurangi jumlah pekerja di pabrik mereka. Ini adalah ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir perusahaan melakukan <em>layoff</em> atau mengurangi karyawan.</p>
<p>Meski ada penurunan tenaga kerja, tumpukan pekerjaan menurun untuk bulan kelima berturut-turut, bahkan menjadi yang tercepat sejak Januari 2021. Perusahaan bisa mengelola beban kerja dengan baik.</p>
<p>Aktivitas pembelian juga terus menurun untuk empat bulan beruntun karena lemahnya pesanan. Sejalan dengan menurunnya permintaan, ketersediaan stok meningkat di pemasok dan perputaran pesanan lebih cepat selama Oktober.</p>
<p>Inflasi biaya sementara melandai selama Oktober ke level terendah sejak Agustus 2023. Namun, ada kenaikan harga sejumlah bahan makanan karena persoalan panen yang terganggu. “Tingkat inflasi secara keseluruhan tetap signifikan dan menyebabkan beberapa produsen menaikkan tarif mereka meskipun hanya marginal dan di bawah rata-rata,” tulis S&amp;P.</p>
<p>Pelaku bisnis melihat prospek tetap positif meskipun turun secara signifikan. Keyakinan bisnis kini dalam tingkat terendah dalam empat bulan serta di bawah historisnya. “Perusahaan berharap akan stabilisasi kondisi pasar dan pengurangan ketidakpastian geopolitik dalam beberapa bulan mendatang,” S&amp;P mengungkapkan.</p>
<p>Country Manager Center for Market Education Indonesia (CME-ID) Alfian Banjaransari mengungkapkan, sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan berat empat bulan terakhir yang tercermin dari <em>Purchasing Manager’s Index</em> (PMI) yang turun.</p>
<p>“Hal ini mengindikasikan menunjukkan penurunan aktivitas produksi dan permintaan. Dibanding dengan kompetitor regional seperti Thailand, Vietnam, dan India, agaknya Indonesia tertinggal karena masalah struktural seperti produktivitas rendah, hambatan regulasi, dan minimnya investasi teknologi,” kata Alfian kepada<strong><em> Indonesiawatch.id</em></strong>.</p>
<p>Selain itu, deflasi ditengarai tengah melanda pasar. <em>Consumer Price Index</em> (CPI) terus mengalami penurunan yang mengindikasikan lemahnya daya beli dan permintaan domestik. “Deflasi rentan memengaruhi kinerja sektor manufaktur jika tidak diatasi. Dengan berkurangnya permintaan domestik, produsen akan kesulitan menjual barang mereka, yang dapat memicu penurunan volume produksi dan margin keuntungan yang lebih kecil,” ujar Afian.</p>
<p><strong>[red]</strong></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/">Tantangan Ekonomi Prabowo, PMI Manufaktur Anjlok, Angka PHK Naik</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/tantangan-ekonomi-prabowo-pmi-manufaktur-anjlok-angka-phk-naik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: indonesiawatch.id @ 2026-04-30 03:24:42 by W3 Total Cache
-->