Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Energi

Medco Diduga Langgar Keputusan Rapat dengan SKK Migas

Avatarbadge-check


					Medco Diduga Langgar Keputusan Rapat dengan SKK Migas Perbesar

Jakarta, Indonesiawatch.id – PT Medco Energy Bangkanai Limited (MEBL) diduga telah melanggar keputusan rapat dengan SKK Migas. Pada tahun lalu, MEBL dan SKK Migas sepakat mencegah terjadinya Ground Flaring.

“Untuk memiliki semangat yang sama untuk mencegah terjadinya Ground Flaring dan tidak terjadi curtailment atau pengetatan produksi sehingga produksi migas Bangkanai dapat disalurkan dengan aman,” seperti dikutip dari Risalah Rapat MEBL dengan SKK Migas, yang diperoleh Indonesiawatch.id.

Ground Flaring adalah metode pembakaran yang dilakukan di darat. Di dunia migas, Ground Flaring biasanya dilakukan untuk mengatasi kelebihan gas atau kondensat penyebab tank top.

Persoalannya, beberapa waktu lalu tugboat yang mengangkut kondensat dari MEBL, terbakar. Peristiwa itu juga mengakibatkan meninggal dunianya beberapa orang di Sungai Barito. Kejadian terjadi tepatnya di dekat terminal PT Pada Idi di Desa Luwe Hulu.

Menurut eks Pimpinan SKK Migas, ground flaring menimbulkan emisi lingkungan hidup yang cukup besar. “Karena yang terbakar volumenya lumayan besar dan pasti ada emisi karbon,” ujarnya kepada Indonesiawatch.id.

Sumber Indonesiawatch.id tersebut menjelaskan bahwa Blok Bangkanai Kalimantan Selatan, yang dikelola MEBL, awalnya tidak didesain untuk menghasilkan kondensat, tetapi gas. ” Lapangan itu tidak didesain untuk menghasilkan liquid condy tapi awalnya dry gas,” ujarnya.

Setelah masuk tahap produksi, lapangan Bangkanai ternyata menghasilkan kondensat. “Jadi fasilitas penampungannya tidak cukup,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menghindari kehilangan produksi termasuk gas yang dipasok ke PLN, maka solusi untuk mengatasi kelebihan kondensat adalah dengan trucking. “Apalagi gas tersebut sangat dibutuhkan PLN. Solusi awal dilakukan trucking,” katanya.

Sumber tersebut mengatakan, penggunaan trucking juga terhambat. Akibatnya sulit memperbanyak pengangkut karena akses ke Lokasi sumber kondensat yang sulit.

“Dengan trucking cukup (untuk mengatasi kelebihan kondensat). Hanya medannya untuk jalan menuju lokasi berat sekali. Kalau musim hujan, truknya tidak mudah lewat sehingga terpaksa “ground flaring” atau stop produksi, pilihannya,” ujarnya.
[red]

Berita Terbaru

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung

18 February 2026 - 02:45 WIB

Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras (tengah) dan jajaran bersama pengurus Kong Miao Genta Kebajikan Pancoran Mas. (Sumber: Diskominfo Depok)

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)
Populer Berita News Update