Menu

Dark Mode
Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

Energi

Medco Diduga Langgar Keputusan Rapat dengan SKK Migas

Avatarbadge-check


					Medco Diduga Langgar Keputusan Rapat dengan SKK Migas Perbesar

Jakarta, Indonesiawatch.id – PT Medco Energy Bangkanai Limited (MEBL) diduga telah melanggar keputusan rapat dengan SKK Migas. Pada tahun lalu, MEBL dan SKK Migas sepakat mencegah terjadinya Ground Flaring.

“Untuk memiliki semangat yang sama untuk mencegah terjadinya Ground Flaring dan tidak terjadi curtailment atau pengetatan produksi sehingga produksi migas Bangkanai dapat disalurkan dengan aman,” seperti dikutip dari Risalah Rapat MEBL dengan SKK Migas, yang diperoleh Indonesiawatch.id.

Ground Flaring adalah metode pembakaran yang dilakukan di darat. Di dunia migas, Ground Flaring biasanya dilakukan untuk mengatasi kelebihan gas atau kondensat penyebab tank top.

Persoalannya, beberapa waktu lalu tugboat yang mengangkut kondensat dari MEBL, terbakar. Peristiwa itu juga mengakibatkan meninggal dunianya beberapa orang di Sungai Barito. Kejadian terjadi tepatnya di dekat terminal PT Pada Idi di Desa Luwe Hulu.

Menurut eks Pimpinan SKK Migas, ground flaring menimbulkan emisi lingkungan hidup yang cukup besar. “Karena yang terbakar volumenya lumayan besar dan pasti ada emisi karbon,” ujarnya kepada Indonesiawatch.id.

Sumber Indonesiawatch.id tersebut menjelaskan bahwa Blok Bangkanai Kalimantan Selatan, yang dikelola MEBL, awalnya tidak didesain untuk menghasilkan kondensat, tetapi gas. ” Lapangan itu tidak didesain untuk menghasilkan liquid condy tapi awalnya dry gas,” ujarnya.

Setelah masuk tahap produksi, lapangan Bangkanai ternyata menghasilkan kondensat. “Jadi fasilitas penampungannya tidak cukup,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menghindari kehilangan produksi termasuk gas yang dipasok ke PLN, maka solusi untuk mengatasi kelebihan kondensat adalah dengan trucking. “Apalagi gas tersebut sangat dibutuhkan PLN. Solusi awal dilakukan trucking,” katanya.

Sumber tersebut mengatakan, penggunaan trucking juga terhambat. Akibatnya sulit memperbanyak pengangkut karena akses ke Lokasi sumber kondensat yang sulit.

“Dengan trucking cukup (untuk mengatasi kelebihan kondensat). Hanya medannya untuk jalan menuju lokasi berat sekali. Kalau musim hujan, truknya tidak mudah lewat sehingga terpaksa “ground flaring” atau stop produksi, pilihannya,” ujarnya.
[red]

Berita Terbaru

Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara

16 May 2026 - 20:11 WIB

Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo

14 May 2026 - 18:14 WIB

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo.

Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

13 May 2026 - 14:11 WIB

Praktisi hukum Maruli Rajagukguk

Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

5 May 2026 - 07:04 WIB

Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek. Sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)
Populer Berita Hukum