<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kabinet Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<atom:link href="https://indonesiawatch.id/tag/kabinet/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/kabinet/</link>
	<description>Melihat Indonesia Dalam Berita</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 Nov 2024 01:31:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://indonesiawatch.id/wp-content/uploads/2024/06/cropped-logo-IW-1-e1719970085662-32x32.png</url>
	<title>Kabinet Archives - INDONESIAWATCH</title>
	<link>https://indonesiawatch.id/tag/kabinet/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pilih Dulu Menterinya, Aturan Nomenklaturnya Kemudian</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/pilih-dulu-menterinya-aturan-nomenklaturnya-kemudian/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/pilih-dulu-menterinya-aturan-nomenklaturnya-kemudian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Nov 2024 01:31:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet]]></category>
		<category><![CDATA[kabinet merah putih]]></category>
		<category><![CDATA[kementeriaan koordinator]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=4388</guid>

					<description><![CDATA[<p>Jakarta, Indonesiawatch.id &#8211; Presiden Prabowo Subianto baru saja meneken Peraturan Presiden (Perpres) tentang nomenklatur Kementerian...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/pilih-dulu-menterinya-aturan-nomenklaturnya-kemudian/">Pilih Dulu Menterinya, Aturan Nomenklaturnya Kemudian</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Indonesiawatch.id &#8211;</strong> Presiden Prabowo Subianto baru saja meneken Peraturan Presiden (Perpres) tentang nomenklatur Kementerian Koordinator baru. Pembuatan regulasi tersebut berlangsung setelah Prabowo Menyusun menteri-menterinya, termasuk Menteri Koordinator (Menko).</p>
<p>Dikutip dari <a href="https://jdih.setneg.go.id/Terbaru">Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) Kementerian Sekretariat Negara</a>, ada tujuh Perpres tentang nomenklatur Kementerian Koordinator yang diteken Prabowo. Pertama adalah Pepres Nomor 142/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan.</p>
<blockquote>
<h6>Baca juga:<br />
<a href="https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/"><span style="color: #ff6600;">Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN?</span></a></h6>
</blockquote>
<p>Kedua, yaitu Perpres No. 144/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Ketiga, Perpres No. 146/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.</p>
<p>Keempat, Perpres No. 145/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Kelima, Perpres 141/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.</p>
<blockquote>
<h6>Baca juga:<br />
<span style="color: #ff6600;"><a style="color: #ff6600;" href="https://indonesiawatch.id/kabinet-gemoy-prabowo-gibran-kental-politik-kekuasaan/">Kabinet Gemoy Prabowo-Gibran Kental Politik Kekuasaan</a></span></h6>
</blockquote>
<p>Keenam, Perpres No. 143/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Terakhir, Perpres No. 147/2024 tentang Kementerian Koordinator Bidang Pangan.</p>
<p>Berdasarkan 7 Perpres tentang Kementerian Koordinator tersebut, maka susunan nomenklatur cabinet Merah Putih Prabowo adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong>1. Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakat:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Hukum</li>
<li>Kementerian Hak Asasi Manusia</li>
<li>Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan</li>
</ul>
<p><strong>2. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Agama</li>
<li>Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah</li>
<li>Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi</li>
<li>Kementerian Kebudayaan</li>
<li>Kementerian Kesehatan</li>
<li>Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak</li>
<li>Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional</li>
<li>Kementerian Pemuda dan Olahraga</li>
</ul>
<p><strong>3. Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Sosial</li>
<li>Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia/Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia</li>
<li>Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal</li>
<li>Kementerian Koperasi</li>
<li>Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah</li>
<li>Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif</li>
</ul>
<p><strong>4. Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional</li>
<li>Kementerian Pekerjaan Umum</li>
<li>Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman</li>
<li>Kementerian Transmigrasi</li>
<li>Kementerian Perhubungan</li>
</ul>
<p><strong>5. Kementerian Koordinator Bidang Pangan:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Pertanian</li>
<li>Kementerian Kehutanan</li>
<li>Kementerian Kelautan dan Perikanan</li>
<li>Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup</li>
<li>Badan Pangan Nasional</li>
<li>Badan Gizi Nasional</li>
</ul>
<p><strong>6. Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Dalam Negeri</li>
<li>Kementerian Luar Negeri</li>
<li>Kementerian Pertahanan</li>
<li>Kementerian Komunikasi dan Digital</li>
<li>Kejaksaan Agung Republik Indonesia</li>
<li>Tentara Nasional Indonesia</li>
<li>Kepolisian Negara Republik Indonesia</li>
</ul>
<p><strong>7. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian:</strong></p>
<ul>
<li>Kementerian Ketenagakerjaan</li>
<li>Kementerian Perindustrian</li>
<li>Kementerian Perdagangan</li>
<li>Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral</li>
<li>Kementerian Badan Usaha Milik Negara</li>
<li>Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal</li>
<li>Kementerian Pariwisata</li>
</ul>
<p><strong>[red]</strong></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/pilih-dulu-menterinya-aturan-nomenklaturnya-kemudian/">Pilih Dulu Menterinya, Aturan Nomenklaturnya Kemudian</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/pilih-dulu-menterinya-aturan-nomenklaturnya-kemudian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN?</title>
		<link>https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/</link>
					<comments>https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Oct 2024 07:31:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[News Update]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Breaking News]]></category>
		<category><![CDATA[Fiskal APBN]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet]]></category>
		<category><![CDATA[LPKAN]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Wibisono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://indonesiawatch.id/?p=4035</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN? Oleh: Wibisono* &#160; Konsekuensi lainnya dari kabinet pemerintahan...</p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/">Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN?</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN? </strong></p>
<p>Oleh: Wibisono*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Konsekuensi lainnya dari kabinet pemerintahan baru yang besar, pastinya membuat ruang oposisi semakin kecil. Peran dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah,akan semakin sulit dilakukan</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam pekan ini, presiden terpilih Prabowo Subianto memanggil para calon menteri dan wakil menteri ke kediamannya di Kertanegara 4, Jakarta Selatan. Dikabarkan, komposisi jumlah kementerian dalam kabinet presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka akan mengalami penambahan yang signifikan. Semula kursi kabinet pada era Presiden Jokowi berjumlah 34 kini diprediksi menjadi sebanyak 46.</p>
<p>Kabar mengenai hal ini lantas menjadi perhatian publik, Sebab, rencana penambahan jumlah kementerian ini sering dipandang sebagai politik balas budi.</p>
<p>Saya menilai hal ini sah-sah saja bagi Prabowo dalam menyusun kabinetnya dengan memilih para pembantunya di pemerintahan yang akan datang. Namun, dalam pandangan saya, kabinet yang terlalu banyak atau gemuk justru tidak akan efektif.</p>
<p>Sejumlah kalangan memprediksi kursi kabinet akan minim figur profesional, namun justru banyak diisi utusan partai atau relawan pendukungnya. Yang dikhawatirkan ini adalah bias dari politik balas budi, sehingga kursi menteri akan diisi oleh banyak politisi—bukan dari kalangan profesional yang memang kompeten di bidangnya.</p>
<p>Konsekuensi lainnya dari kabinet pemerintahan baru yang besar, pastinya membuat ruang oposisi semakin kecil. Peran dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah,akan semakin sulit dilakukan.</p>
<p>Dampak yang juga penting, fiskal APBN akan tergerus untuk membayar pegawai yang tentunya akan membengkak dari jumlah kementrian yang ada.</p>
<p>Lalu pertanyaannya, dari mana pos anggaran untuk biaya pegawai? Dari perspektif birokrasi, belanja rutin adalah semua belanja APBN di luar belanja modal. Artinya, “belanja rutin” terdiri dari belanja pegawai, belanja barang (termasuk biaya pemeliharaan), pembayaran bunga utang, subsidi, bantuan sosial, dan belanja lain-lain.</p>
<p>Dan total belanja rutin ini sudah mencapai 86-88 persen dari total pengeluaran pemerintah pusat. Itupun sudah termasuk utang dari defisit anggaran yang pada tahun 2023 mencapai sekitar Rp337 triliun, saat ini pendapatan negara sudah habis untuk “belanja rutin”.</p>
<p>Anggaran pembangunan zaman Pak Harto sekarang dinamakan belanja modal, dan sepenuhnya juga dibiayai dari utang. Yaitu, belanja modal hanya Rp303 triliun tetapi defisit atau utang anggaran mencapai Rp337 triliun.</p>
<p>Belanja pegawai dan pembayaran bunga utang memang sangat rigid. Hampir tidak mungkin dipangkas. Kalau tidak salah, kedua pos anggaran ini saja sudah mencapai 40-45 persen dari total pengeluaran pemerintah pusat.</p>
<p>Tetapi, belanja barang, subsidi, dan bantuan sosial kan masih bisa fluktuasi atau dipangkas. Karena ketiganya tidak murni belanja rutin.</p>
<p>Tetapi fluktuasinya tidak bisa terlalu besar. Belanja barang, namanya saja belanja barang, tetapi sebenarnya adalah belanja operasional rutin juga, termasuk biaya pemeliharaan rutin. Jadi tidak bisa dipangkas terlalu banyak. Belanja barang saja sudah mencapai sekitar 22 persen dari total pengeluaran pemerintah pusat, yang sudah termasuk utang anggaran tadi.</p>
<p>Sedangkan, belanja subsidi dan belanja bantuan sosial sebenarnya juga termasuk “belanja rutin”. Selama kondisi sosial masyarakat tidak banyak berubah, seperti yang terjadi selama 10 tahun terakhir ini, maka kebutuhan belanja subsidi dan belanja bantuan sosial juga masih sama saja.</p>
<p>Bahkan, kondisi sosial selama lima tahun belakangan ini malah memburuk, sehingga belanja subsidi dan bantuan sosial seharusnya naik. Tetapi di era pemerintahan Jokowi malah dipangkas.</p>
<p>Kalau belanja subsidi atau bantuan sosial dikurangi hanya untuk membiayai penambahan jumlah kementerian yang membengkak, risikonya cukup besar. Daya beli masyarakat kelompok bawah akan turun drastis, dan tingkat angka kemiskinan akan naik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*<em>Penulis Pembina Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN)</em></p>
<p>The post <a href="https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/">Kabinet Gemuk Prabowo, Berpotensi Gerus Fiskal APBN?</a> appeared first on <a href="https://indonesiawatch.id">INDONESIAWATCH</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://indonesiawatch.id/kabinet-gemuk-prabowo-berpotensi-gerus-fiskal-apbn/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: indonesiawatch.id @ 2026-04-30 03:38:46 by W3 Total Cache
-->