Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Politik

Tingginya Kepercayaan Publik Terhadap Prabowo Bak Pisau Bermata Dua

Avatarbadge-check


					Presiden Prabowo Memberikan Pembekalan Menteri Kabinet di Akmil Magelang (Doc. ANTARA Foto) Perbesar

Presiden Prabowo Memberikan Pembekalan Menteri Kabinet di Akmil Magelang (Doc. ANTARA Foto)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Indikator Politik Indonesia merilis temuan survei nasional “Keyakinan dan Ekspektasi Publik terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran”. Survei yang berlangsung pada 10-15 Oktober 2024 dan dirilis pada pengujung Oktober 2024 itu mengungkap sejumlah temuan penting terhadap harapan publik terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang baru saja dilantik menjadi presiden dan wakil presiden RI periode 2024-2029.

Indikator memberi catatan saat keduanya dilantik, kondisi geopolitik dunia dan Indonesia tengah mengalami berbagai tantangan. Di dalam negeri, misalnya, kondisi ekonomi masih menyisakan pekerjaan rumah bagi pemerintahan baru. Laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) baru-baru ini menyebut terdapat penurunan jumlah kelas menengah sebanyak 8,5 juta jiwa sejak 2018 hingga 2023.

Penurunan angka tersebut mengindikasikan penurunan kesejahteraan dan peningkatan ketimpangan ekonomi. Sementara dalam konteks geopolitik dunia, terjadi perang dan ketegangan antar negara di berbagai wilayah. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan baru.

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto sangat tinggi dari hasil survei yang menunjukkan kuatnya legitimasi dan modal politik mantan Menteri Pertahanan tersebut. “Ternyata 85,3% survei bulan Oktober kami, bahwa masyarakat sangat yakin atau cukup yakin bahwa Pak Prabowo mampu menjadi pemimpin Indonesia yang lebih baik,” kata Burhanuddin Muhtadi dalam paparannya di Jakarta pada 27 Oktober 2024.

Sejumlah pertanyaan disodorkan kepada responden menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden baru. Survei menanyakan evaluasi publik terhadap berbagai kondisi nasional saat ini, masalah mendesak yang harus diselesaikan pemimpin nasional dalam lima tahun ke depan, keyakinan pada Prabowo Subianto dalam memimpin Indonesia menjadi lebih baik, dukungan terhadap program makan siang gratis, serta berbagai isu politik jelang pelantikan.

Optimisme Publik terhadap Program Makan Siang Gratis Prabowo (Sumber: Riset Indikator Politik)

Burhanuddin menjelaskan saat ini, mayoritas masyarakat tampak memberikan persepsi positif terhadap pemerintahan ke depan dalam menghadapi situasi global yang penuh tantangan. Pertama, mayoritas masyarakat percaya bahwa Indonesia mampu mengatasi tantangan ekonomi global akibat menurunnya volume perdagangan global, perubahan iklim global dan juga tantangan kemajuan teknologi yang memangkas penggunaan tenaga kerja manusia.

Kedua, mayoritas masyarakat percaya bahwa Prabowo Subianto mampu menjaga kedaulatan negara Indonesia di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu akibat meluasnya peperangan yang terjadi. Ketiga, mayoritas juga memberi dukungan bahwa peningkatan kemampuan alutsista merupakan prioritas dalam menjaga keamanan nasional.

Meski demikian, Burhanuddin mengingatkan bawah keyakinan publik ini bisa menjadi pisau bermata dua. Sebab, jika pemerintahan Prabowo gagal memenuhi ekspektasi publik, kekecewaannya juga bisa berat.  “Oleh karena itu, agenda dan implementasi kebijakan ke depan harus sangat hati-hati. Besarnya ekspektasi publik terhadap perbaikan bagi Indonesia ke depan harus terus terjaga, jika tidak, kepercayaan yang begitu besar bisa berbalik menjadi perlawanan yang sulit dikendalikan,” tuturnya.

Burhanuddin membeberkan analisisnya terhadap tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap Prabowo. Salah satunya karena terjadi semacam koalisi di tingkat bawah antara basis Jokowi dan Prabowo. “Pada masa Pak Jokowi terpilih sebagai presiden tahun 2014 maupun tahun 2019 itu basis Pak Prabowo masih belum ikhlas untuk mendukung Pak Jokowi, karena polarisasinya yang sangat tinggi sekali saat itu. Makanya publik confident pada masa Pak Jokowi itu lebih bersifat partisan karena hanya ditopang pendukung Pak Jokowi saja,” kata Burhanuddin.

“Nah, sekarang berbeda karena Pak Prabowo terpilih salah satunya dengan impact Pak Jokowi. Ketika Pak Prabowo terpilih sebagai presiden, pendukung Pak Jokowi confident terhadap pak Prabowo,” ia menambahkan.

Menariknya, survei Indikator juga menjaring harapan publik pada pemerintahan Prabowo Subianto secara rinci. Di antaranya, isu soal mengendalikan harga kebutuhan pokok (30,4%), menyediakan lapangan kerja (18,9%), mengurangi kemiskinan (10,3%), pemberantasan korupsi (7,6%), dan memajukan sektor pertanian (7,5%).

Survei juga menyatakan mayoritas publik (86,5%) tahu program makan bergizi gratis yang merupakan janji kampanye paling menonjol pasangan Prabowo-Gibran. Sebanyak 77,6% responden setuju agar program itu dilaksanakan. Bahkan, 66,1% responden percaya program makan bergizi gratis dapat mengatasi masalah gizi buruk.

Sementara itu, analis politik sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Philips J. Vermonte mencermati hal yang menarik dari survei Indikator kali ini. Yaitu, penilaian masyarakat bahwa situasi politik, keamanan, dan penegakan hukum dianggap baik, meskipun kondisi ekonomi dinilai memburuk.

“Artinya mereka [masyarakat] move on dari kontestasi politik yang tajam selama pemilu. Menurut saya, ini menunjukkan kedewasaan masyarakat Indonesia bahwa mereka bisa move on ketika ada pemerintahan baru. Ini harus kita jaga terus untuk ke depannya,” ujarnya.

Menurut Philips, masyarakat sejatinya tidak terburu-buru melihat prestasi pemerintah dalam tiga bulan atau 100 hari masa pemerintahan. Menurutnya, keberhasilan yang penting adalah dalam jangka panjang, seperti program makanan bergizi gratis yang hasilnya tidak dapat terlihat dalam waktu singkat.

[red]

Berita Terbaru

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung

18 February 2026 - 02:45 WIB

Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras (tengah) dan jajaran bersama pengurus Kong Miao Genta Kebajikan Pancoran Mas. (Sumber: Diskominfo Depok)

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)
Populer Berita News Update