Menu

Dark Mode
Sempat Ditolak Ajang Pencarian Bakat, Maki Kini jadi Musisi Filipina Paling Bersinar di Asia Tenggara Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

Opini

Sapi Punya Susu Pejabat, Kejar Rente Impor

Avatarbadge-check


					Peternak sapi perah dan pengepul susu di Boyolali memprotes pembatasan kuota susu lokal dengan menggelar aksi mandi susu. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho) Perbesar

Peternak sapi perah dan pengepul susu di Boyolali memprotes pembatasan kuota susu lokal dengan menggelar aksi mandi susu. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Lagi-lagi sektor usaha rakyat, terjegal oleh nafsu rente para pejabat yang membidangi impor susu. Adanya kebijakan oleh Industri Pengolahan Susu (IPS), tentang pembatasan kuota susu perah dari peternak sapi di Boyolali, mengakibatkan terjadinya kelebihan produksi susu sapi sebesar 30.000 liter/hari atau sekitar Rp 400 juta.

Akibat dari pembatasan kuota susu sapi oleh IPS, telah memicu aksi massa para peternak sapi di Boyolali, dengan membuang 50 Ton susu di depan kantor Dinas Peternakan Boyolali, bahkan sebagian susu digunakan untuk mandi oleh para peternak sapi, sebagai bentuk protes.

Aksi buang susu sapi perah sebanyak 50 ton, oleh para peternak sapi di Boyolali, merupakan peristiwa yang kontraproduktif terhadap program makan bergizi gratis dan upaya untuk mengatasi kasus stunting yang masih terjadi, diberbagai daerah di Indonesia.

Pembatasan kuota susu oleh IPS, disinyalir karena adanya kuota impor susu dari luar negeri, dengan fasilitas kemudahan import. Produksi susu lokal untuk kebutuhan dalam negeri baru sekitar 20 persen, sisanya sekitar 80 persen kebutuhan susu dalam negeri berasal dari impor.

Oleh sebab itu, jika pemerintah lebih mengedepankan perlindungan terhadap sektor produksi susu lokal, tidak akan terjadi kelebihan produk susu local yang memicu aksi unjuk rasa para peternak sapi perah.

Fenomena import komoditi pangan yang berdampak terhadap melemahnya produksi pangan dalam negeri, sudah saatnya membutuhkan campur tangan pemerintah pusat, mengingat kebijakan yang mengutamakan produk pangan import, semata-mata karena adanya praktek mengejar rente dari para oknum pejabat, tanpa mempertimbangkan dampak terpuruknya para petani dan peternak di dalam negeri.

Aksi unjuk rasa Boyolali, hendaknya menjadi tantangan pemerintah Prabowo, untuk menindak tegas para pemangku kebijakan import yang semata-mata mengejar rente.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang

11 June 2026 - 14:25 WIB

Direktur PT Adi Artha Karya, Bambang Adi S. (Sumber: Instagram)

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo

14 May 2026 - 18:14 WIB

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo.

Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

13 May 2026 - 14:11 WIB

Praktisi hukum Maruli Rajagukguk

Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

5 May 2026 - 07:04 WIB

Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek. Sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Populer Berita Hukum