Menu

Dark Mode
Sempat Ditolak Ajang Pencarian Bakat, Maki Kini jadi Musisi Filipina Paling Bersinar di Asia Tenggara Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

Opini

Pembatalan Pameran Lukisan Gejala Pemasungan Terhadap Karya Seni

Avatarbadge-check


					Salah satu lukisam karya Yos Suprapto. (Indonesiawatch.id/Dok Yos Suprapto) Perbesar

Salah satu lukisam karya Yos Suprapto. (Indonesiawatch.id/Dok Yos Suprapto)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Pameran lukisan tunggal karya Yos Suprapto bertajuk “Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional yang seharusnya dibuka pada Kamis (19/12/2024) malam, terpaksa dibatalkan.

Pameran batal karena kurator Suwarno Wisetrotomo meminta lima dari 30 lukisan Yos untuk diturunkan, karena alasan yang amat politis dan dikatakan terlalu vulgar, menampilkan seorang dengan topi raja jawa sedang senggama.

Sementara menurut Menteri Kebudayaan Fadlizon, pembatalan pameran lukisan, karena ada beberapa lukisan yang tidak sesuai dengan thema lukisan. Pembatalan pameran lukisan karya Yos Suprapto, adalah peristiwa pembredelan terhadap ekspresi seni di awal era kepemimpinan Presiden Prabowo.

Para budayawan mengatakan, pembatasan terhadap karya seni oleh Kementerian Kebudayaan, adalah bentuk ekspansi birokrasi negara terhadap kebebasan berkebudayaan. Fenomena pembatalan pameran lukisan Yos, menjadi sinyalemen akan kemunduran peradaban Indonesia menghadapi cepatnya arus modernisasi dunia.

Tidak mengejutkan jika Indonesia hari ini, dianalogikan sebagai “soerang manusia yang sudah berani buka baju, tapi ternyata baju pengganti belum ada, akhirnya orang tersebut telanjang, mudah terserang penyakit”.

Ekspresi seni melahirkan nilai estetika dan pengejahwantaan seniman menafsirkan keadaan yang dialami, dalam bentuk-bentuk yang memiliki nilai kesenian. Sementara ekspresi kekuasaan yang selama ini dipamerkan dalam bentuk kekerasan, pelanggaran terhadap konstitusi, kebohongan demi langgengkan kekuasaan, telah melahirkan carut marutnya kehidupan berbangsa bernegara.

Seharusnya ekspresi ini yang dibredel, karena telah membentuk peradaban manusia Indonesia tanpa sopan santun, mengancam kedaulatan negara dan mencederai citra Indonesia dalam pergaulan internasional serta kemunduran demokrasi .

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang

11 June 2026 - 14:25 WIB

Direktur PT Adi Artha Karya, Bambang Adi S. (Sumber: Instagram)

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo

14 May 2026 - 18:14 WIB

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo.

Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

13 May 2026 - 14:11 WIB

Praktisi hukum Maruli Rajagukguk

Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

5 May 2026 - 07:04 WIB

Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek. Sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Populer Berita Hukum