Menu

Dark Mode
Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

Opini

Sikap Jokowi Serang SBY Untuk Rebut Legitimasi Single Power Di Indonesia

Avatarbadge-check


					Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).
Perbesar

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Pengamat politik dari Lingkar Demokrasi Nusantara Rendy Alamsyah, mengatakan relasi Jokowi-SBY sebagai “rekonsiliasi yang gagal sejak dini”. Menurut Rendy “ apa yang kita lihat hari ini adalah ledakan dari konflik laten yang tidak pernah selesai sejak 2014”.

Fenomena konflik Jokowi-SBY, memang tidak pernah terlihat langsung di permukaan, tapi publik bisa membaca adanya tarik menarik kedua belah kubu, untuk merebut dominasi kekuasaan politik di Indonesia.

Konflik tradisional kedua kubu, kembali pecah ketika isu ijazah palsu Jokowi menyasar kepada partai biru. Konfrontasi politik akhirnya tidak bisa ditutupi, ketika Silfester seorang relawan Jokowi, dalam acara debat di televisi, menegaskan adanya keterlibatan tokoh besar dari partai biru, dalam sengkarut ijazah palsu Jokowi.

Tudingan SBY dibalik isu ijazah palsu Jokowi, nampaknya analisa politik paranoid kubu Jokowi yang dipicu oleh maraknya gerakan pemakzulan Gibran dan munculnya wacana AHY yang digadang-gadang layak menggantikan Gibran.

Perilaku Jokowi yang otoritarian personality, telah memporak porandakan nilai demokrasi sebagai pondasi reformasi, akibat politik dinasti yang mengedepankan “politik sayang anak”.

Tabir gelap penempatan Gibran sebagai Wakil Presiden Prabowo, kini semakin terungkap sebagai strategi politik untuk merebut kekuasaan 2029. Bagi Jokowi untuk merebut legitimasi sebagai single power di panggung politik nasional adalah harga mati.

Kasus ijazah palsu dan pemakzulan Gibran adalah ancaman potensial yang harus disingkirkan dengan menghalalkan segala cara. Disisi lain kekuasaan presiden Prabowo adalah pijakan politik bagi manuver Jokowi merebut kursi presiden 2029.

Bagi rakyat menghentikan laju manuver politik Jokowi untuk merebut kekuasaan presiden 2029, adalah harga yang harus dibayar sekalipun mahal, mengingat sepak terjang Jokowi selama 10 tahun berkuasa, telah memporak porandakan semua sendi kehidupan rakyat Indonesia dan jalannya reformasi.

Kini sikap negarawan presiden Prabowo diuji, apakah akan membiarkan terjadinya pertumpahan darah diantara anak bangsa, atau berdiri diatas kepentingan rakyat untuk menetralisir ancaman sikap otoritarian personality Jokowi yang semata-mata mempertahankan politik dinasti.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba

Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan

20 February 2026 - 18:23 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen
Populer Berita Opini