Menu

Dark Mode
Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

Opini

Dilema Bayangan Jokowi yang Masih Membekas di Pemerintahan

Avatarbadge-check


					Presiden Prabowo Subianto (Dok. Setneg) Perbesar

Presiden Prabowo Subianto (Dok. Setneg)

Penulis Opini: Angiola Harry (Pegiat Media)

 

Jakarta, Indonesiawatch.id – Di luar gejolak di jalanan dan gejolak di pasar, krisis ini telah menghidupkan kembali perdebatan mengenai pengaruh abadi mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam struktur kekuasaan Indonesia. Banyak kritikus berpendapat bahwa pemerintahan Presiden Prabowo masih didominasi oleh sekutu Jokowi—mulai dari eksekutif hingga yudikatif.

Kemampuan Jokowi untuk mengamankan posisi wakil presiden kepada putranya, serta ikatan keluarga di Mahkamah Konstitusi (MK), telah memicu persepsi bahwa ia terus membentuk arah negara, meskipun telah lengser.

Keputusan kontroversial MK tentang pengubahan batas usia minimal pada pemilihan umum presiden dan daerah, semakin memperkuat kecurigaan bahwa lingkaran dalam Jokowi masih memiliki pengaruh yang sangat besar.

Dengan latar belakang ini, tekanan semakin meningkat pada Prabowo untuk menegaskan otoritasnya dengan lebih berani. Para pendukung berpendapat bahwa untuk menstabilkan Indonesia, ia harus “bebersih” dengan menjauhkan kepemimpinannya dari jaringan Jokowi yang mengakar di cabang eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Tantangan bagi Prabowo adalah apakah ia dapat melakukannya tanpa memperdalam perpecahan politik—atau apakah bayang-bayang Jokowi akan tetap menjadi ciri khas politik Indonesia.

Saat ini, Indonesia berada di persimpangan jalan. Melemahnya rupiah, keresahan investor, dan kemarahan publik yang semakin dalam merupakan gejala dari pertanyaan yang lebih besar: mampukah Prabowo mengonsolidasikan otoritas dalam pemerintahan yang masih dibentuk oleh warisan Jokowi?

Bagaimana ia menjawab pertanyaan itu dapat menentukan tidak hanya arah masa jabatan kepresidenannya—tetapi juga stabilitas ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah

20 August 2026 - 11:51 WIB

Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.

Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo

3 August 2026 - 15:43 WIB

Kapolri terlama sejak tahun 1960 (Sumber: museumpolri.org; diolah)

LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

1 August 2026 - 07:58 WIB

Suasana sidang praperadilan Nomor 13/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Utr yang diajukan atas nama Gabriel Lumbantoruan (Ist.)
Populer Berita Hukum