Menu

Dark Mode
Ada Apa dengan Rencana RUPSLB Bank Mandiri Bayang Kekuasaan yang Tak Kunjung Usai Pemko Tangerang Diduga Diskriminasi Sekolah PAUD yang Raih Prestasi Nasional Hampir 3 Tahun Pemekaran Papua, Anggota DPD RI: Belum Ada Perubahan Signifikan Presiden Harus Belajar dari Sultan Iskandar Muda Jejak Dua Tokoh Nasional di Era SBY, Diduga Menitip MRC ke Mantan Dirut Pertamina

Ekonomi

Eks Dirut Indosat: Konsolidasi Telekomunikasi Bisa Lahirkan Oligopoli

Avatarbadge-check


					Mantan Direktur Utama PT Indosat, Alexander Rusli (Liputan6.com/Herman Zakharia). Perbesar

Mantan Direktur Utama PT Indosat, Alexander Rusli (Liputan6.com/Herman Zakharia).

Jakarta, Indonesiawatch.id – Pemerintah terus mendorong konsolidasi di sektor telekomunikasi. Kominfo mentargetkan ada 3 pemain operator seluler di Indonesia. Menurut eks Direktur Utama PT Indosat, Alexander Rusli, konsolidasi perusahaan operator seluer berdampak negatif untuk bisnis tower.

“Kalau yang berdampak secara negatif, ya pasti industri tower, pemain tower independen. Berarti kan industri tower, pemainnya juga lebih sedikit. Bukan pemain BTS, pemain towerlah istilahnya secara teknis,” ujarnya kepada Indonesiawatch.id, baru-baru ini.

Menurutnya, perampingan pemain operator seluler di Indonesia berpotensi menyebabkan oligopoli. “Yang ada kalau pemain sedikit, bisa naikkin harga bersama-sama. Karena mereka bisa sama-sama untung,” katanya.

Kalau bisnis operator seluler hanya 3 pemain, kata Alex, mereka bisa membagi market share. “Nggak saling mengambil market share. Yang penting tiap tahun growthnya bisa 8%, 9%. Justru yang ada naikin harga, walaupun itu ilegal. Makanya peran regulator lebih aktif lagi supaya tidak ada oligopoli,” ujarnya.

Alex mengurai, jika pemain-pemain operator sudah ‘raksasa’ semua, maka tidak ada kepentingan untuk membuat promo atau diskon harga kepada konsumen. “Sudah besar semua, nggak punya kepentingan lagi untuk buat discount gede-gedean kan. Ngurangi profit. Lebih bagus sama-sama naikin harga, sama-sama untung,” katanya.

Meski demikian, menurut Alex, konsolidasi telekomunikasi diperlukan saat ini. “Konsolidasi telco itu sudah lama. Dulu belum kritis situasinya. Sekarang semakin dirasa perlu,” katanya.

Menurutnya, return bisnis telekomunikasi itu kecil. “Jadi yang bisa main-maiin di bisnis telekomunikasi itu, yang punya cost of money murah. Kalau dulu kalau ada lokal yang masuk, itu kan bisnis ini masih growth. Kalau sekarang sudah nggak lagi,” katanya.

Alex melihat, salah satu penyebab lambatnya konsolidasi telekomunikasi di Indonesia yaitu tidak adanya intervensi negara secara regulasi. “Pemerintah hanya bisa memberikan izin berdasarkan permintaan. Tapi tidak ada pemaksaan dari pemerintah. Tidak ada konsekuensi secara regulasi, kalau nggak mau merger,” katanya.
[red]

Berita Terbaru

Alat AI Buatan Anak Bangsa Ini, Bisa Cegah Boncosnya Asuransi Jiwa

1 November 2025 - 10:48 WIB

PT Seleris Meditekno Internasional (Seleris) sudah bekerjasama dengan PT IDPAY ASIA JAYA (Foto. Ist.)

Boyamin Saiman Apresiasi Penyidik PMJ, Temukan Ponsel Kacab BRI

23 September 2025 - 16:22 WIB

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Bin Saiman mencari Riza Chalid di Malaysia (Foto: Ist.)

Ada Dugaan Penggelapan Aset, Menyeret Oknum Bank UOB & BPN

7 September 2025 - 14:46 WIB

Ilustrasi Bank UOB. (Foto: Uskarp/Shutterstock)

Dilema Bayangan Jokowi yang Masih Membekas di Pemerintahan

30 August 2025 - 11:45 WIB

Serakahnomic & Tamaknomic

23 August 2025 - 14:19 WIB

Ilustrasi Serakahnomic & Tamaknomic (Gambar: istockphoto.com)
Populer Berita News Update