Menu

Dark Mode
Jampidsus Febrie Diminta Mundur Demi Jaga Marwah Kejagung dan Pemerintahan Prabowo Sempat Ditolak Ajang Pencarian Bakat, Maki Kini jadi Musisi Filipina Paling Bersinar di Asia Tenggara Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

Energi

Ini Cara Hitung Nilai Akuisisi Aset Lapangan Migas Versi Arcandra Tahar

Avatarbadge-check


					Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA ). Perbesar

Mantan Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar (KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA ).

Banyak faktor yang memotivasi pembeli mengakusisi aset migas dengan harga premium. Selain upside potensial tadi, ada juga faktor keamanan suplai untuk downstream bisnis si pembeli, seperti refinery dan petrochemical.

“Bisa juga karena merasa punya teknologi dan SDM yang mampu mengelola dengan lebih efisien sehingga akan punya margin keuntungan yang lebih besar,” Arcandra menerangkan.

Jika pembeli sudah paham wilayah kerja migas tersebut, kata Arcandra, sangat mungkin pembeli memiliki informasi yang membuatnya yakin dengan aset yang akan diakuisisi. “Informasi lebih inilah yang bisa menghasikan pendapatan baru untuk menutupi harga premium tadi,” katanya.

Selain kriteria NPV dalam menilai harga semua aset, kriteria lain yang biasa digunakan adalah price per boe dari cadangan terbukti. Untuk contoh di atas tadi, price per boe adalah USD 300 juta dibagi dengan 50 juta boe atau USD 6 per boe.

“Nah, adakah data penunjang yang bisa dipakai untuk menilai berapa price per boe yang wajar? Tentu saja ada, tapi akan sangat susah untuk menyamakan kriteria apa yang disebut nilai wajar,” kata Komisaris Independen PT PLN (persero) ini.

Arcandra mencontohkan, nilai wajar bagi ExxonMobil mungkin berbeda dengan Shell. Begitu juga antara perusahaan menengah dengan perusahaan besar.

“Kalau begitu kriteria apalagi yang bisa dipakai agar valuasi sebuah aset bisa dilakukan secara apple-to-apple. Internal Rate of Return (IRR) atau kecepatan dari investasi tersebut, untuk mengembalikan modal juga biasa dipakai,” katanya.

Arcandra menganalogikan, bagi Perusahaan A, IRR sebesar 15% adalah sebuah keharusan karena cost of capital mereka yang cukup tinggi. Menurut Arcandra, bisa jadi karena perusahaan A itu berutang dengan bunga yang tinggi.

Tapi bagi Perusahaan B, kata Arcandra, nilai IRR sebesar 10% sudah cukup wajar karena berbagai alasan seperti cost of capital mereka yang murah.

Bersambung ke halaman selanjutnya

Berita Terbaru

Jampidsus Febrie Diminta Mundur Demi Jaga Marwah Kejagung dan Pemerintahan Prabowo

10 July 2026 - 09:12 WIB

Jampidsus Febrie Diminta Mundur (Sumber: Center of Energy and Resources Indonesia/ CERI)

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara

16 May 2026 - 20:11 WIB

Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo

14 May 2026 - 18:14 WIB

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo.

Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

13 May 2026 - 14:11 WIB

Praktisi hukum Maruli Rajagukguk
Populer Berita Hukum