Menu

Dark Mode
Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja Algojo, Serial Action di Arena Jakarta yang Keras Ada Limbah Industri Politik di Kasus Ijazah Jokowi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 Bukan 27 Desember 1949

Opini

Karakter Raja Jawa dalam Perspektif Pemerintahan Jokowi

Avatarbadge-check


					Karakter Raja Jawa dalam Perspektif Pemerintahan Jokowi Perbesar

Jakarta, Indonesiawatch.id – Berawal dari seloroh Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar pada acara Munas Golkar yang baru lalu “jangan main-main dengan Raja Jawa, ngeri-ngeri sedap”. Raja Jawa dalam hal ini, banyak yang beranggapan, merujuk pada karakter Jokowi.

Pernyataan ini jika diamati dari teori semantik, mengandung makna signifikansi. Artinya ada pesan kebesaran seorang tokoh, sekaligus ungkapan ancaman. Kemudian muncul berbagai respons atas pernyataan Bahlil yang dipandang beraroma “menjilat”. Apakah raja-raja Jawa memiliki karakter mengerikan dan keji, seperti yang disampaikan Bahlil.

Baca juga:
Foto Viral Bahlil di Samping Whisky! Gaya Pejabat yang Super Kebangetan

Tapi pastinya Bahlil tanpa sadar menyingkap tabir gelap sang bos yang dipersonifikasikan sebagai raja Jawa.

Menurut catatan serat Whedatama dan Wulangreh yang menguraikan karater dan sifat raja-raja Jawa, berdasarkan masa periode kerajaan Jawa era Hindu/Buddha dan Islam, diantaranya waspada, rendah hati, sabar, taat beragama dan prihatin.

Disisi lain berdasarkan catatan pemerintah kolonial pada masa itu, ditemukan perihal karakter raja-raja Jawa priode tahun 1800-an. Diantaranya hedonis, menggunakan manajemen konflik, otoriter, amat feodal, sangat mengutamakan pencitraan.

Dari catatan sejarah yang bercerita tentang karakter kekuasaan raja-raja Jawa, nampaknya ucapan seloroh Bahlil pada acara Munas Golkar, bukan sekedar candaan politik. Tapi sebuah keluguan Bahlil terhadap apa yang selama ini dirasakannya.

Ucapan “jangan main-main dengan raja Jawa” merupakan alarm kepada para pejabat negara, menghadapi Presiden Jokowi yang memiliki karakter kekuasaan. Mengadopsi karakter kekuasaan raja-raja Jawa, seperti catatan pemerintah kolonial.

Baca juga:
Salah Kaprah Isi Pidato Perdana Bahlil Jadi Menteri ESDM

Realita panggung politik nasional terkini, menyajikan konfigurasi potret kekuasaan yang didominasi oleh maraknya kegiatan pencitraan, prilaku hedonis dan otoriterian, praktek management konflik dan nuansa feodalism yang mengutamakan suksesi kekuasaan ditangan keluarga.

Terlepas dari sepak terjang Bahlil yang kerapkali menggemaskan, tapi patut kita ucapkan terimakasih kepada Bahlil, atas keluguannya telah menyingkap tabir hitam kekuasaan “raja Jawa”.

Sri radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)

Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi

15 January 2026 - 12:27 WIB

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) se-Kota Bandung serta Pemuda/i Kristen Kota Bandung pada hari ini melaksanakan aksi damai.

Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja

15 January 2026 - 12:11 WIB

Andreas Freddy Pieloor

Ada Limbah Industri Politik di Kasus Ijazah Jokowi

10 January 2026 - 13:08 WIB

Eggi Sudjana, salah satu tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu Jokowi

Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 Bukan 27 Desember 1949

27 December 2025 - 17:53 WIB

Kemerdekaan INdonesia 17 Agustus 1945
Populer Berita Opini