Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Opini

Karakter Raja Jawa dalam Perspektif Pemerintahan Jokowi

Avatarbadge-check


					Karakter Raja Jawa dalam Perspektif Pemerintahan Jokowi Perbesar

Jakarta, Indonesiawatch.id – Berawal dari seloroh Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar pada acara Munas Golkar yang baru lalu “jangan main-main dengan Raja Jawa, ngeri-ngeri sedap”. Raja Jawa dalam hal ini, banyak yang beranggapan, merujuk pada karakter Jokowi.

Pernyataan ini jika diamati dari teori semantik, mengandung makna signifikansi. Artinya ada pesan kebesaran seorang tokoh, sekaligus ungkapan ancaman. Kemudian muncul berbagai respons atas pernyataan Bahlil yang dipandang beraroma “menjilat”. Apakah raja-raja Jawa memiliki karakter mengerikan dan keji, seperti yang disampaikan Bahlil.

Baca juga:
Foto Viral Bahlil di Samping Whisky! Gaya Pejabat yang Super Kebangetan

Tapi pastinya Bahlil tanpa sadar menyingkap tabir gelap sang bos yang dipersonifikasikan sebagai raja Jawa.

Menurut catatan serat Whedatama dan Wulangreh yang menguraikan karater dan sifat raja-raja Jawa, berdasarkan masa periode kerajaan Jawa era Hindu/Buddha dan Islam, diantaranya waspada, rendah hati, sabar, taat beragama dan prihatin.

Disisi lain berdasarkan catatan pemerintah kolonial pada masa itu, ditemukan perihal karakter raja-raja Jawa priode tahun 1800-an. Diantaranya hedonis, menggunakan manajemen konflik, otoriter, amat feodal, sangat mengutamakan pencitraan.

Dari catatan sejarah yang bercerita tentang karakter kekuasaan raja-raja Jawa, nampaknya ucapan seloroh Bahlil pada acara Munas Golkar, bukan sekedar candaan politik. Tapi sebuah keluguan Bahlil terhadap apa yang selama ini dirasakannya.

Ucapan “jangan main-main dengan raja Jawa” merupakan alarm kepada para pejabat negara, menghadapi Presiden Jokowi yang memiliki karakter kekuasaan. Mengadopsi karakter kekuasaan raja-raja Jawa, seperti catatan pemerintah kolonial.

Baca juga:
Salah Kaprah Isi Pidato Perdana Bahlil Jadi Menteri ESDM

Realita panggung politik nasional terkini, menyajikan konfigurasi potret kekuasaan yang didominasi oleh maraknya kegiatan pencitraan, prilaku hedonis dan otoriterian, praktek management konflik dan nuansa feodalism yang mengutamakan suksesi kekuasaan ditangan keluarga.

Terlepas dari sepak terjang Bahlil yang kerapkali menggemaskan, tapi patut kita ucapkan terimakasih kepada Bahlil, atas keluguannya telah menyingkap tabir hitam kekuasaan “raja Jawa”.

Sri radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba
Populer Berita Opini