Menu ✖

Dark Mode
Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah

Opini

Lampu Kuning Manufaktur Indonesia

Avatarbadge-check


					Ilustrasi Buruh Pabrik (Doc. Antara) Perbesar

Ilustrasi Buruh Pabrik (Doc. Antara)

Lampu Kuning Manufaktur Indonesia

Oleh: Alfian Banjaransari*

 

Tanpa kebijakan yang tepat, sektor manufaktur akan menghadapi penurunan produksi lebih lanjut, dan perusahaan akan menanggung beban utang yang meningkat akibat deflasi yang berujung pada PHK.

 

Dalam beberapa bulan terakhir, sektor manufaktur Indonesia menghadapi tantangan yang semakin besar. Gelombang PHK yang melanda pabrik-pabrik di seantero negeri mewarnai berita sehari-hari. Apa pasal?

Dalam beberapa bulan terakhir, sektor manufaktur Indonesia mengalami tekanan berat yang tercermin dari Purchasing Manager’s Index (PMI) yang turun menjadi 49,3. Ha ini mengindikasikan menunjukkan penurunan aktivitas produksi dan permintaan. Dibanding dengan kompetitor regional seperti Thailand, Vietnam, dan India, agaknya Indonesia tertinggal karena masalah struktural seperti produktivitas rendah, hambatan regulasi, dan minimnya investasi teknologi.

Selain itu, deflasi ditengarai tengah melanda pasar. Menurut BPS, Consumer Price Index (CPI) turun berturut-turut pada Mei hingga Juli 2024, yang mengindikasikan lemahnya daya beli dan permintaan domestik. Deflasi rentan memengaruhi kinerja sektor manufaktur jika tidak diatasi. Dengan berkurangnya permintaan domestik, produsen akan kesulitan menjual barang mereka, yang dapat memicu penurunan volume produksi dan margin keuntungan yang lebih kecil.

Di sisi lain, rupiah menunjukkan penguatan atas dolar AS. Lho, bukankah ini berita yang menggembirakan? Tunggu dulu. Meski penguatan rupiah membantu mengontrol inflasi, hal ini justru menjadi bumerang, karena malahan membuat ekspor Indonesia lebih mahal dan menjadi kurang kompetitif di pasar global.

Baca juga:
PMI Manufaktur Turun Terus Sejak Maret 2024, Ekonom: Akan Diikuti Rentetan PHK

Belum lagi produk-produk manufaktur andalan Indonesia seperti tekstil dan alas kaki menghadapi tantangan besar di pasar internasional karena kompetitor seperti Vietnam misalnya, sudah terlebih dahulu menikmati perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa, kawasan primadona ekspor kita.

Tanpa kebijakan yang tepat, sektor manufaktur akan menghadapi penurunan produksi lebih lanjut, dan perusahaan akan menanggung beban utang yang meningkat akibat deflasi yang berujung pada PHK atau bahkan penghentian operasi. Ini kan membuat pemulihan sektor manufaktur menjadi semakin sulit?

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah harus segera mengambil langkah strategis. Fokus pada reformasi regulasi, dan peningkatan investasi di teknologi sangat dibutuhkan untuk mengembalikan daya saing Indonesia di kancah global.

*Penulis Country Manager Center for Market Education Indonesia (CME-ID)

Berita Terbaru

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Waspadalah, Indonesia Memasuki Siklus Reset Peradaban

8 October 2026 - 17:08 WIB

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah

20 August 2026 - 11:51 WIB

Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.
Populer Berita Hukum