Jakarta, Indonesiawatch.id – Di sudut koridor sebuah rumah sakit daerah, seorang anak perempuan bernama Kartika, tertidur lemas di atas kereta dorong. Dia sedang menderita penyakit serius, demam berdarah.
Kartika tidak segera mendapat pertolongan walaupun sakit yang diderita, mengancam jiwanya. Maklum Kartika bukan siapa-siapa.
Inilah potret keseharian yang dapat dilihat di berbagai fasilitas umum layanan masyarakat, dimana semakin sering terjadi fenomena runtuhnya rasa keadilan. Sebuah realita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di era reformasi, bahwa kekuasaan negara tidak hadir ditengah himpitan hidup yang mendera rakyat kecil.
Demokrasi sebagai berhala politik, ternyata telah menjadi alat legitimasi penguasa untuk mensiasati konstitusi dan menggerus rasa keadilan.
Kartika yang sedang berjuang melawan sakitnya, sambil menunggu penanganan dokter, akhirnya tertidur dan bermimpi, jumpa dengan Ahmadinejad. Sosok pemimpin sedehana, perduli kepada persoalan rakyat kecil.
Kesederhanaanya dalam keseharian, dibuktikan oleh Ahmadinejad dengan tetap mendiami rumahnya yang sederhana di pinggir Teheran dan tetap menggunakan mobil pribadinya sebagai mobil kepresidenan merk Peugeot 504 tahun 1977.
Di dalam tas kerjanya, ada bekal makan siang yang dibawa dari rumahnya. Kebiasaan Ahmadinejad setiap pagi, sebelum melaksanakan kegiatan kenegaraan, berdiri didepan cermin besar dan mengatakan pada diri sendiri “Kamu adalah pelayan”.
Angan Kartika jauh melambung, seperti harapan anak-anak Indonesia. Kalau saja Ahmadinejad ditakdirkan memimpin negeri ini, Kartika dan jutaan nasib anak bangsa, tidak akan mengalami nasib tragis.
Diterlantarkan akibat prilaku pemimpin negara yang gemar menjarah warisan ibu pertiwi dan gemar berprilaku hedonis, ditengah rakyatnya yang terserak di gubuk-gubuk kumuh, mengais rejeki agar besok bisa makan.
Pemerintah tanpa rasa malu, terus mendongkrak pajak, iuran listrik, PDAM dan sembako. Terbersit dibenak anak-anak negeri, jika untuk menjalankan negara ini, cuma dengan menaikan pajak dan kebutuhan pokok rakyat serta ngutang, mending nggak usah ada presiden dan gerombolan menteri.
Kartika dan jutaan anak bangsa, telah dimiskinkan oleh sistem yang difabrikasi oleh penguasa, hanya untuk kepentingan para oligarki dan petinggi negara. Tapi Kartika dan jutaan anak, tetap bangga menjadi anak Indonesia dan memohon ampunan Tuhan, untuk para pemimpin negeri ini yang telah menjarah warisan anak bangsa .
Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen