Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Opini

Pembatalan Pameran Lukisan Gejala Pemasungan Terhadap Karya Seni

Avatarbadge-check


					Salah satu lukisam karya Yos Suprapto. (Indonesiawatch.id/Dok Yos Suprapto) Perbesar

Salah satu lukisam karya Yos Suprapto. (Indonesiawatch.id/Dok Yos Suprapto)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Pameran lukisan tunggal karya Yos Suprapto bertajuk “Kebangkitan: Tanah Untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional yang seharusnya dibuka pada Kamis (19/12/2024) malam, terpaksa dibatalkan.

Pameran batal karena kurator Suwarno Wisetrotomo meminta lima dari 30 lukisan Yos untuk diturunkan, karena alasan yang amat politis dan dikatakan terlalu vulgar, menampilkan seorang dengan topi raja jawa sedang senggama.

Sementara menurut Menteri Kebudayaan Fadlizon, pembatalan pameran lukisan, karena ada beberapa lukisan yang tidak sesuai dengan thema lukisan. Pembatalan pameran lukisan karya Yos Suprapto, adalah peristiwa pembredelan terhadap ekspresi seni di awal era kepemimpinan Presiden Prabowo.

Para budayawan mengatakan, pembatasan terhadap karya seni oleh Kementerian Kebudayaan, adalah bentuk ekspansi birokrasi negara terhadap kebebasan berkebudayaan. Fenomena pembatalan pameran lukisan Yos, menjadi sinyalemen akan kemunduran peradaban Indonesia menghadapi cepatnya arus modernisasi dunia.

Tidak mengejutkan jika Indonesia hari ini, dianalogikan sebagai “soerang manusia yang sudah berani buka baju, tapi ternyata baju pengganti belum ada, akhirnya orang tersebut telanjang, mudah terserang penyakit”.

Ekspresi seni melahirkan nilai estetika dan pengejahwantaan seniman menafsirkan keadaan yang dialami, dalam bentuk-bentuk yang memiliki nilai kesenian. Sementara ekspresi kekuasaan yang selama ini dipamerkan dalam bentuk kekerasan, pelanggaran terhadap konstitusi, kebohongan demi langgengkan kekuasaan, telah melahirkan carut marutnya kehidupan berbangsa bernegara.

Seharusnya ekspresi ini yang dibredel, karena telah membentuk peradaban manusia Indonesia tanpa sopan santun, mengancam kedaulatan negara dan mencederai citra Indonesia dalam pergaulan internasional serta kemunduran demokrasi .

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba
Populer Berita Opini