Menu

Dark Mode
Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja Algojo, Serial Action di Arena Jakarta yang Keras Ada Limbah Industri Politik di Kasus Ijazah Jokowi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 Bukan 27 Desember 1949

Opini

Sapi Punya Susu Pejabat, Kejar Rente Impor

Avatarbadge-check


					Peternak sapi perah dan pengepul susu di Boyolali memprotes pembatasan kuota susu lokal dengan menggelar aksi mandi susu. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho) Perbesar

Peternak sapi perah dan pengepul susu di Boyolali memprotes pembatasan kuota susu lokal dengan menggelar aksi mandi susu. (Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Lagi-lagi sektor usaha rakyat, terjegal oleh nafsu rente para pejabat yang membidangi impor susu. Adanya kebijakan oleh Industri Pengolahan Susu (IPS), tentang pembatasan kuota susu perah dari peternak sapi di Boyolali, mengakibatkan terjadinya kelebihan produksi susu sapi sebesar 30.000 liter/hari atau sekitar Rp 400 juta.

Akibat dari pembatasan kuota susu sapi oleh IPS, telah memicu aksi massa para peternak sapi di Boyolali, dengan membuang 50 Ton susu di depan kantor Dinas Peternakan Boyolali, bahkan sebagian susu digunakan untuk mandi oleh para peternak sapi, sebagai bentuk protes.

Aksi buang susu sapi perah sebanyak 50 ton, oleh para peternak sapi di Boyolali, merupakan peristiwa yang kontraproduktif terhadap program makan bergizi gratis dan upaya untuk mengatasi kasus stunting yang masih terjadi, diberbagai daerah di Indonesia.

Pembatasan kuota susu oleh IPS, disinyalir karena adanya kuota impor susu dari luar negeri, dengan fasilitas kemudahan import. Produksi susu lokal untuk kebutuhan dalam negeri baru sekitar 20 persen, sisanya sekitar 80 persen kebutuhan susu dalam negeri berasal dari impor.

Oleh sebab itu, jika pemerintah lebih mengedepankan perlindungan terhadap sektor produksi susu lokal, tidak akan terjadi kelebihan produk susu local yang memicu aksi unjuk rasa para peternak sapi perah.

Fenomena import komoditi pangan yang berdampak terhadap melemahnya produksi pangan dalam negeri, sudah saatnya membutuhkan campur tangan pemerintah pusat, mengingat kebijakan yang mengutamakan produk pangan import, semata-mata karena adanya praktek mengejar rente dari para oknum pejabat, tanpa mempertimbangkan dampak terpuruknya para petani dan peternak di dalam negeri.

Aksi unjuk rasa Boyolali, hendaknya menjadi tantangan pemerintah Prabowo, untuk menindak tegas para pemangku kebijakan import yang semata-mata mengejar rente.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)

Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi

15 January 2026 - 12:27 WIB

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) se-Kota Bandung serta Pemuda/i Kristen Kota Bandung pada hari ini melaksanakan aksi damai.

Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja

15 January 2026 - 12:11 WIB

Andreas Freddy Pieloor

Ada Limbah Industri Politik di Kasus Ijazah Jokowi

10 January 2026 - 13:08 WIB

Eggi Sudjana, salah satu tersangka dalam kasus tudingan ijazah palsu Jokowi

Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 Bukan 27 Desember 1949

27 December 2025 - 17:53 WIB

Kemerdekaan INdonesia 17 Agustus 1945
Populer Berita Opini