“Jadi duit nggak ada di pereknomian. Mereka [bank] mendapatkan profit dari situ. Zero risk. Bayangkan saja duit Anda Rp1 triliun dapat 7 persen saja setahun, berapa. Itu duduk-duduk saja dapat duit,” ujarnya.
Belum lagi intensifnya instrumen peningkatan fiskal seperti penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), yang menyedot uang dari masyarakat. Kenaikan suku bunga ikut menaikkan kupon SBN, yang menjadi daya tarik.
“Kalau suku bunga BI naik, [kupon] SBN nggak naik, nanti nggak laku SBN nya. Meskipun kalau SBN itu kan sebenarnya duitnya masih keluar. Karena dengan duit itu, pemerintah belanja, kembali ke perekonomian. Tapi kalau [uangnya] untuk bayar utang, ini yang repot,” pungkasnya.
[red]






