Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Opini

Merajut Kembali Imajinasi Kebangsaan jika Tidak Ingin Melihat Indonesia Tinggal Sejarah

Avatarbadge-check


					Sri Radjasa MBA, Pemerhati Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Istimewa). Perbesar

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Provinsi Daerah Istimewa Aceh (Istimewa).

Jakarta, Indonesiawatch.id – Tulisan opini ini, sepenuhnya merujuk pada konsep kajian imajinasi kebangsaan yang ditulis oleh Prof Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, guru besar UIN Ar Raniry Aceh dan Presiden Asian Muslim Action Network.

Dalam tulisan tenang konsep imajinasi kebangsaan, Prof Kamaruzzaman merefleksikan kegalauannya, sejalan dengan begitu antusiasnya negara-negara di dunia, terus mengaktualisasikan arah kebijakan dan strategi merumuskan pencapaian dimasa depan.

Sementara Indonesia walau telah memiliki konsep rancang bangun Indonesia pada tahun 2045, namun baru pada aspek ekonomi, oleh sebab itu, menjadi kebutuhan mendesak untuk mendisain paradigma baru, sebagai panduan guna memahami imajinasi kebangsaan.

Substansi kajian tentang merajut kembali imajinasi kebangsaan, dititik beratkan pada pencarian akar nilai-nilai yang terkandung dalam budaya bangsa Indonesia, namun lebih bertumpu pada konsep yang berbasiskan filsafat teoritik atau meta-fisika dan meta-teori.

Kajian tentang imajinasi kebangsaan berbasis meta fisika dan meta teori belum banyak dilakukan secara akademis. Harus disadari bahwa, bangunan nasionalisme Indonesia cenderung, bertumpu pada nilai-nilai kebangsaan berbasis Jawa sentris semata yang tanpa disadari telah memicu “kecemburuan nasionalisme”, tentunya berpotensi menjadi ancaman serius bagi format Indonesia sebagai negara kesatuan.

Dihadapkan oleh derasnya arus perubahan global, dipandang penting bagi Indonesia untuk mengkaji kembali imajinasi kebangsaan yang digali dari aspek kosmologi, spirit, ideology dan ilmu pengetahuan bercirikan kenusantaraan, dalam rangka membangun strategi politik pertahanan dan keamanan yang memiliki daya tangkal dan mampu merespon, setiap tantangan dan ancaman global.

Sejauh ini keempat aspek kosmologi, spirit, ideology dan ilmu pengetahuan, tidak dibangun secara harmonis. Sistem kosmologis yang ada disetiap daerah jarang diangkat kepermukaan, karena kosmologi Indonesia kerapkali hanya dilihat dari aspek kosmologi Jawa, demikian juga dominasi spirit Jawa selalu dikedepankan secara simbolik.

Menyangkut ideologi dalam berbagai diskusi, kerapkali ideology Pancasila selalu terkesampingkan, sementara ideology lain selalu disodorkan sebagai solusi.

Sudah saatnya bangsa Indonesia, memiliki kesadaran kebangsaan yang dibangun diatas pondasi bercirikan kenusantaraan, dengan mengadopsi secara harmonis aspek kosmologi, spirit, ideology dan ilmu pengetahuan, dalam rangka mewujudkan strategi politik pertahanan dan keamanan yang mampu menjawab tantangan dunia yang berubah cepat dan sulit diprediksi.

Imajinasi kebangsaan Indonesia harus dibangun menjadi prasasti nasionalisme yang berdiri tegak dari sabang sampai merauke, jika tidak ingin melihat Indonesia tinggal sejarah. Perlu menjadi catatan bahwa sejarah bukan masa lalu, karena masa lalu telah membawa sejarah ke masa kini.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba

Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan

20 February 2026 - 18:23 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen

Lawan Praktik Serakahnomics di Program MBG Melalui Koperasi Desa Merah Putih

17 February 2026 - 12:57 WIB

Para siswa mengikuti kegiatan MBG (Sumber: diolah)
Populer Berita Opini