Menu

Dark Mode
Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

Opini

Tentara dalam Pusaran Kejahatan

Avatarbadge-check


					reformasi TNI. Perbesar

reformasi TNI.

Jakarta, Indonesiawatch.id – Akhir-akhir ini Tentara Nasional Indonesia menjadi perdebatan di berbagai platform media, mulai dari soal jabatan dan pangkat Letkol Teddy, Revisi UU TNI hingga kasus tindak kriminal melibatkan oknum anggota TNI yang eskalasinya cenderung meningkat.

Respons sebagai tanggapan dan kritik yang datang dari kalangan pengamat, akademisi dan LSM, khususnya menyangkut kekerasan yang melibatkan oknum anggota TNI, umumnya menyoroti persoalan internal TNI yang dipandang rendahnya penegakan disiplin dan lemahnya peran pengawasan serta sikap arogan dan superioritas anggota TNI karena tidak tersentuh oleh hukum sipil.

Sebagai orang yang pernah berada di institusi TNI selama lebih dari 25 tahun, kiranya perlu berbagi untuk dijadikan masukan, dalam mencermati faktor-faktor pemicu terjadinya tindak pidana yang melibatkan oknum anggota TNI.

Faktor internal memiliki andil besar, memicu anggota TNI melakukan kejahatan, seperti kesenjangan yang amat tajam antara komandan dan anggota, sehingga kehadiran komandan tidak memberikan keteladanan kepada anggota.

Lemahnya aspek kepemimpinan, khususnya peran kebapakan pada level komandan satuan, mengakibatkan pola komunikasi yang berkembang sebatas atasan dan bawahan.

Hasil pengumpulan informasi dari anggota di beberapa satuan tempur dan satuan bantuan tempur, didapat keterangan bahwa kesenjangan ekonomi yang tajam antara komandan dan anggota serta gaya kepemimpinan yang hanya mengedepankan peran komandan, telah menimbulkan “silent rebellion” dikalangan anggota yang kadang kala bersifat destruktif.

Sementara faktor eksternal yang amat berpengaruh terhadap aksi kejahatan yang melibatkan anggota TNI, adalah prilaku anggota polisi yang kerapkali, menunjukan superioritas dihadapan anggota TNI.

Sementara itu tersebar rumor, adanya perintah dari unsur pimpinan Polri, untuk jangan pernah kalah ketika berbenturan dengan anggota TNI. Oleh sebab itu, terbentuk image yang memposisikan anggota TNI adalah musuh potensial bagi polisi.

Akibatnya setiap terjadi bentrok antara anggota TNI dengan anggota polri, selalu menimbulkan kerugiaan cukup besar.

Selanjutnya reformasi TNI sebagai konsekuensi dari perubahan kekuasaan ditangan supremasi sipil, merupakan hasil dari campur tangan pihak asing.

Tidak saja melucuti dwifungsi TNI dan menggiring TNI ke barak, tapi dirasakan ada upaya untuk memposisikan TNI sebagai musuh bersama yang harus dilemahkan. Stigma yang dibentuk terhadap TNI sebagai pihak yang merusak demokrasi dan pelaku pelanggaran HAM, mengakibatkan TNI sebagai organisasi yang harus dicurigai, seperti organisasi terlarang lainnya.

Kondisi ini telah menimbukan frustasi di kalangan prajurit TNI yang selama ini telah mengorbankan jiwa raga dan keluarganya demi mengawal kedaulatan negara.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba

Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan

20 February 2026 - 18:23 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen
Populer Berita Opini