Jakarta, Indonesiawatch.id – Setelah terpilih sebagai presiden tahun 2014, potret Jokowi menghiasi cover majalah Time dengan judul “New Hope”. Luar negeri mensejajarkan Jokowi dengan Obama, sosok pemimpin yang datang dari kelompok minoritas dan kelas bawah “wong cilik” yang akan membawa harapan baru.
Pembawaan Jokowi yang sederhana, adalah antitesa dari kebanyakan pejabat negara yang elitis. Portofolio Jokowi telah menghipnotis banyak pihak, akan hadirnya pemimpin pro rakyat dan berkomitmen terhadap pembangunan demokrasi.
Optimisme akan datangnya era baru pemerintahan yang berpihak kepada rakyat, ternyata hanya kosmetika politik, untuk memoles wajah bopeng kekuasaan Jokowi di periode kedua pemerintahannya.
Jokowi sebagai anak biologis reformasi, ternyata memiliki cacat bawaan, karena mengidap otoritarianism personality. Alih-alih memperkokoh nilai demokrasi, menjelang berakhirnya kekuasaan Jokowi, justru mengintrodusir budaya politik orde baru.
Dalam rangka membangun network kekuatan politik, untuk melanggengkan kekuasaannya, dengan strategi politik sandera.
Praktek politik sandera ternyata efektif bagi Jokowi, untuk melakukan control kekuasaan, paska tidak lagi berada di kursi presiden. Tetapi mengakibatkan dampak buruk luar biasa bagi kelangsungan kehidupan berbangsa bernegara yang dicita-citakan reformasi.
Runtuhnya pondasi demokrasi, hukum dan ekonomi serta terpolarisasinya kekuatan politik, mengakibatkan bangsa ini semakin terbelah. Sejarah mencatat kemenangan pasangan Prabowo-Gibran pada pilpres 2024, adalah buah karya Jokowi dengan mengerahkan network kekuatan politiknya yang dibentuk melalui mekanisme politik sandera.
Jokowi dengan ambisi liar politiknya dan didukung oleh sifat otoritarianism personality, realitasnya berhasil mempertahankan control terhadap kekuasaan pemerintah Prabowo.
Jokowi yang kental budaya kosmologi Jawa, maka tidak salah jika dijuluki sebagai “raja jawa”, dengan perilaku politik mengedepankan superioritas, dengan kata lain tidak boleh ada yang lebih unggul dari Jokowi.
Oleh sebab itu Jokowi menggelar operasi garis dalam, dalam rangka menciptakan “kekuasaan minimalis” pemerintahan Prabowo.
Sifat dasar Jokowi yang otoritarianism personality dan gelar operasi garis dalam, telah membentuk dualisme loyalitas dalam satu perahu kekuasaan presiden.
Fenomena politik dualisme loyalitas, tidak saja melemahkan kekuasaan presiden sebagai kepala negara maupun kepala pemerintahan, tetapi bayang-bayang Jokowi dalam wajah pemerintahan probowo, akan semakin mempertajam jurang relasi antara penguasa dengan rakyat.
Sebagaimana ungkapan viral dari produk iklan “apapun makannya minumnya tetap teh botol”, begitulah target operasi garis dalam Jokowi “siapapun presidennya, penguasanya tetap Jokowi”.
Strategi politik sandera adalah sebuah orkestra dengan dirigen Jokowi, terus melantunkan lagu “kejarlah daku kau kutangkap”, tanpa perduli rakyat sebagai penonton suka atau tidak suka.
Mencermati konfigurasi politik hari ini, nampaknya rakyat diminta untuk terus bersabar dan diam sebagai penonton, sebagaimana pernyataan presiden Probowo saat baru dilantik. Tapi sikap diam bukan lagi emas, tapi bisa jadi pengecut atau bagian dari para penghianat negara.
Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen











