Jakarta, Indonesiawatch.id – Betapa miris melihat aksi demonstrasi mahasiswa menolak revisi UU TNI yang meluas hingga terjadi aksi pembakaran fasilitas pemerintah di beberapa daerah. Aksi demonstrasi mahasiswa dengan narasi tuntutan, seakan tidak ada kompromi bagi TNI, kecuali kembali ke barak.
Nampaknya TNI telah diposisikan seperti organisasi terlarang, dengan dosa-dosa penghianatan terhadap negara dan bangsa. Fenomena aksi mahasiswa dalam penolakan terhadap RUU TNI, tentunya patut menjadi renungan para penyelenggara negara dan pimpinan TNI.
Aksi demo mahasiswa yang massif tersebut, menjadi keprihatinan karena negara tidak memiliki kemampuan membangun kekuatan menghadapi perang asimetris atau perang modern yang menargetkan pelemahan generasi muda tentang pemahaman sejarah bangsanya.
Kemarahan mahasiswa, sebagai generasi yang mungkin tidak memiliki pemahaman komrehensif tentang sejarah TNI, sehingga aksi mahasiswa tidak semata-mata sebagai bentuk kritik, tetapi sebagai pelampiasan kebencian terhadap TNI yang didalam benak mahasiswa, sebagai pihak yang harus disisihkan dari kehidupan berbangsa bernegara.
Tentunya dibutuhkan sikap keterbukaan untuk mengatakan, TNI sebagai komponen negara, mengakui telah terjadi penyalahgunaan tugas TNI, untuk kepentingan politik penguasa terutama di era orde baru.
Mari sejenak kita buka lembaran sejarah masa lalu TNI, sebagai tentara rakyat, tentara pejuang dan tentara nasional, dengan prestasi gemilang mengawal kemerdekaan dan keutuhan kedaulatan negara.
Dua kali TNI bersama sama rakyat, mampu mematahkan penghianatan PKI untuk merebut kekuasaan negara. Kemudian TNI bersama sama rakyat, dengan hanya berbekal semangat “merdeka atau mati”, berhasil menggusur kekuatan 3 divisi militer Inggris sebagai pemenang perang dunia ke II, dibantu 2 divisi militer Australia, 200.000 militer Belanda dan pasukan Cina Po an Tui, dalam agresi militer terhadap Indonesia yang sudah merdeka.
Bahkan Inggris yang tergabung dalam sekutu, dilengkapi persenjataan militer modern, harus kehilangan 2 orang perwira tingginya pada pertempuran Surabaya.
TNI yang lahir dari rahim rakyat, berbeda dengan pembentukan militer barat, sesungguhnya dengan sikap kesatria telah melaksanakan butir-butir tuntutan reformasi, sebagai keputusan politik negara, tapi mahasiswa sebagai representasi generasi muda, masih dengan kemarahan menuntut TNI harus disisihkan dari kehidupan berbangsa bernegara.
Padahal didunia ini, negara yang menjunjung tinggi demokrasi pasti diikuti dengan militernya yang kuat. Sudah saatnya TNI bersama sama pemerintah, lebih membuka diri untuk membangun relasi dengan mahasiswa, sebagai komitmen transparansi menghadapi perang modern, agar mahasiswa memiliki sikap deteren terhadap informasi dan ide menyesatkan yang berpotensi membuat bangsa ini terbelah. TNI harus menunjukan komitmen tugasnya sebagaimana diamanatkan pada alinea keempat pembukaan UUD 45.
Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen











