Menu

Dark Mode
Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

Opini

Idul Fitri dalam Perspektif Berbangsa Bernegara

Avatarbadge-check


					Idul Fitri dalam Perspektif Berbangsa Bernegara Perbesar

Jakarta, Indonesiawatch.id – Bulan Ramadhan memiliki arti bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena 17 Agustus 1945 jatuh dalam bulan suci ramadhan, Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang disiarkan keseluruh dunia.

Kemerdekaan Indonesia bukan semata mata sebuah peristiwa sejarah, tetapi mengandung nilai religius, karena kehendak Allah SWT terjadi di bulan suci ramadhan. Oleh karenanya bagi bangsa Indonesia, Ramadhan dan Idul Fitri patut dijadikan sebagai prasasti kemenangan terhadap penindasan manusia oleh manusia.

Kemenangan untuk menjadi manusia merdeka, kemenangan melawan hawa nafsu duniawi yang merusak moral dan nilai-nilai agama dan kemenangan untuk berbagi kebaikan terhadap sesama rakyat Indonesia dan agama.

Memasuki 80 tahun kemerdekaan Indonesia, prestasi kemenangan Idul Fitri semakin surut. Kita harus menyadari bahwa Idul Fitri semakin melemah menghadapi keserakahan pejabat negara.

Idul Fitri tidak mampu memadamkan api jahiliah para penegak hukum, idul fitri tidak berdaya menghadapi kejahatan sistemik penyelenggara negara di eksekutif dan legislatif. Bahkan Idul Fitri tidak mampu memadamkan amarah di antara para petinggi negeri yang terus berkonflik, untuk kepentingan kelompoknya.

Idul Fitri di era reformasi nampakanya hanya dirasakan di lingkungan rakyat miskin. Mereka terbukti semakin sabar menghadapi kehidupan yang semakin sulit, karena meraka yakin di balik kesulitan akan datang kemenangan di dunia maupun di akhirat.

Pada Idul Fitri 1446 H kali ini, marilah kita jadikan sebagai momentum kemenangan melawan segala bentuk kejahatan terhadap negara dan agama. Kita tidak ingin menjadi sebagai bangsa yang dianggap mengintrodusir nilai-nilai jahiliyah di era modern.

Kita tidak ingin menjadi bangsa yang menghianati nilai idul fitri. Ingat bahwa sesungguhnya kekuasaan, jabatan, pangkat dan kekayaan yang kita miliki, sama sekali tidak akan mampu mendinginkan api neraka.

Sekali lagi jangan pernah lupa bahwa balasan Allah SWT itu pasti. Semoga kita adalah umat Allah SWT yang dipertemukan di syurga Nya.

Sri Radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba
Populer Berita Opini