Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Opini

Gizi Buruk pada Anak Indonesia, Korban Ketamakan Oknum Pejabat Negara

Avatarbadge-check


					Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen dan Pendekar Anak UNICEF)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Sepenggal puisi “jangan usik Indonesiaku” ini, merupakan potret realita anak Indonesia yang harus menderita kekurangan gizi.

Nasib anak negeri
Tersisih disudut gubuk kumuh
Tak kuasa tangan menggapai asa
Cita-cita hanya retorika semata

Nasib anak negeri
Selalu tertidur karena lapar
Hidup seakan tak ada pilihan
Kecuali mati dalam kemiskinan

Mereka dimiskinkan oleh kebijakan negara, kehilangan akses untuk memperoleh pendidikan dan kesehatan, infrastuktur sosial yang tidak layak serta penegakan hukum tidak berpihak pada rakyat kecil.

Nampaknya para pejabat negara yang kerap berlindung dibalik kemasan agamis, ternyata jauh lebih buruk dari negara Kuba yang komunis, tapi mampu membawa negaranya menduduki peringkat tertinggi memberikan jaminan social bagi rakyatnya. Di Kuba sekolah diberikan oleh negara secara gratis sampai jenjang universitas dan layanan kesehatan gratis untuk rakyat tanpa diskriminasi.

Inilah potret anak Indonesia berdasarkan data UNICEF, tiga dari sepuluh bayi di bawah usia 6 bulan tidak mendapat ASI eksklusif. Dua dari lima anak di bawah usia lima tahun tidak menerima jumlah kelompok makanan yang direkomendasikan, dan hanya 40 persen yang menerima jumlah asupan minimal yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Asupan gizi ibu yang buruk selama kehamilan dan infeksi mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan janin, dengan 6 persen bayi baru lahir memiliki berat badan lahir rendah (<2500 gram). Sekitar satu dari dua anak-anak dan remaja usia sekolah mengonsumsi satu atau lebih minuman manis per hari, sementara lebih dari 95 persen dari kelompok ini tidak menerima asupan buah-buahan dan sayuran dalam jumlah yang cukup (5 porsi per hari) dan lebih dari separuh remaja tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup.

Data UNICEF juga menunjukkan adanya masalah wasting pada balita di Indonesia, dengan 13.6 juta di antaranya mengalami gizi buruk. Berdasarkan data yang dirilis PBB, ada 149 Juta Anak di dunia alami stunting, sebanyak 6,3 Juta di Indonesia, sehingga UNICEF memposisikan Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang mengalami gizi kurang yang tinggi.

Kekurangan gizi pada balita, bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan jangka panjang. Anak-anak kurang gizi, bisa mengalami kekerdilan selama hidupnya. Potensi fisik dan intelektual mereka juga mungkin tak akan pernah berkembang maksimal. Masalah kurang gizi di Indonesia, umum terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin dan tidak memiliki akses layanan kesehatan yang memadai.

Walaupun presiden Prabowo telah menetapkan kebijakan makan sehat gratis, tapi tetap terkendala oleh pendanaan yang besar. Pemerintah harus membuat kebijakan-kebijakan terkait perbaikan gizi, seperti mendesak kalangan produsen pemasok makanan sehat bagi anak-anak dengan harga terjangkau, membuat sistem pelabelan produk sehat dan tidak sehat untuk memudahkan masyarakat dalam memilih makanan, membangun sistem pendukung kesehatan seperti air bersih, sanitasi, pendidikan, dan perlindungan sosial untuk anak, kemudian melakukan pendataan dan evaluasi berkelanjutan terkait kondisi nutrisi anak.

Kondisi yang lebih ironi adalah, di tengah kemiskinan yang mendera rakyat kecil dan kurang gizi anak-anak Indonesia yang dapat berdampak buruk terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia, tetapi kasus mega korupsi dan penegakan hukum abal-abal menjadi peristiwa keseharian, terjadi didepan mata. Berapa banyak kebocoran uang negara oleh para koruptor dan oknum penegak hukum yang rakus, dibiarkan berlalu begitu saja.

Sejauh ini pemerintah, lebih mempertimbangkan membiarkan kopurtor, oligarki dan oknum penegak hukum, hidup menikmati hasil uang jarahan, sementara anak-anak Indonesia sebagai pewaris tunggal negara ini, dibiarkan mati sejak dini. Tidak berlebihan jika prilaku para penyelenggara negara lebih zalim dari pemerintahan komunis dibelahan negara lain.

Demi menjaga kelangsungan sumber daya manusia Indonesia yang tanggap, tanggon dan trengginas, tidak ada kata lain kecuali “cari, temukan dan basmi para penjarah uang rakyat”.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba

Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan

20 February 2026 - 18:23 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen

Lawan Praktik Serakahnomics di Program MBG Melalui Koperasi Desa Merah Putih

17 February 2026 - 12:57 WIB

Para siswa mengikuti kegiatan MBG (Sumber: diolah)
Populer Berita Opini