Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiawatch.id – Otoritarian personality adalah kecenderungan psikologi dengan karakteristik utama, amat mementingkan kekuasaan dan dominasi serta selalu menempatkan diri sebagai tidak bersalah. Oleh karenanya sulit untuk introspeksi diri atau refleksi diri.
Otoritarian personality lebih mengedepankan sikap bermusuhan dan gemar menghukum orang lain, maka kerapkali muncul sikap sinisme, destruktif dan mengalihkan perasaan negative kepada orang lain. Konsep otoritarian personality awalnya dikembangkan oleh Theodor Adorno dan rekan-rekannya pada tahun 1950-an, sebagai cara untuk memahami faktor-faktor psikologis dan kekuasaan politik yang berkontribusi terhadap kebangkitan fasisme dan Holocaust.
Tidak dapat dipungkiri, tokoh-tokoh dunia yang memiliki karakter otoritarian personality, seperti Hitler, Stalin dan Kim Jong Un, telah merubah wajah dunia ke arah kehancuran. Akibat perilaku kekuasaannya yang cenderung menjadi sentral terhadap control kekuasaan dunia.
Indonesia selama 10 tahun terakhir di bawah kekuasaan Presiden Joko Widodo, harus diakui mengalami depresi politik, hukum dan ekonomi, akibat prilaku kekuasaan jokowi yang cenderung otoritarian personality. Jokowi selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, berambisi mengendalikan kontrol negara ditangannya.
Melalui politik sandera, Jokowi mengendalikan elite parpol papan atas, untuk tunduk di kaki Jokowi. Hukum telah dijadikan alat represif, untuk menciptakan kepatuhan semu terhadap kekuasaan jokowi. Legacy dari 10 tahun kekuasaan jokowi, telah meninggalkan benih konflik diantara anak bangsa yang berpotensi bangsa ini terbelah.
Otoritarian personality yang menjangkiti jokowi, telah menjadi pandemi yang melemahkan stabilitas nasional. Jokowi sama sekali tidak menunjukan sikap kenegarawanan, tetapi justru menempatkan rakyat sebagai musuh yang harus diberangus.
Jokowi justru dengan arogan melakukan propaganda sebagai sosok superior dan jumawa. Jokowi lupa bahwa people power adalah kekuatan dahsyat yang dalam sejarah kekuasaan di dunia, tidak ada yang mampu menghadangnya.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis











