Menu

Dark Mode
Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

Opini

Kubu Jokowi Terpapar Virus Politik Kutu Loncat

Avatarbadge-check


					Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA. Perbesar

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Masih belum hilang dari ingatan public, ketika Paiman Raharjo gembong relawan sedulur Jokowi, mengultimatum para pemburu ijazah palsu Jokowi dan awak media, dengan narasi bernada ancaman “kepada para awak media untuk sementara tidak membahas issue ijazah Jokowi dicetak di pasar pramuka pojok, karena terjadi gejolak relawan sedulur Jokowi dibeberapa wilayah Jakarta, dapat meluas dan gaduh”.

Dari pilihan kata yang ducapkan Paiman, jelas sekali ada pesan yang ingin disampaikan Paiman, bahwa militansi dan loyalitas relawan Jokowi tegak lurus dan tidak usah diragukan kesetiaannya kepada Jokowi. Relawan Jokowi seakan seperti mesin perang yang siap mengorbankan jiwa raganya untuk Jokowi.

Belum genap setahun pemerintahan Prabowo, kehidupan politik nasional mengalami pandemi virus politik kutu loncat. Hasil pemantauan di lapangan, ternyata kubu Jokowi telah ditetapkan sebagai zona merah, karena paling banyak terpapar virus politik kutu loncat.

Bahkan beberapa tokoh relawan Jokowi, seperti Budi Arie, Maruara Sirait dan Maman Abdulrahman, saat ini telah dikarantina akibat terjangkit varian virus kutu loncat paling berbahaya yaitu varian Papa (penghianat), dengan tingkat penularannya sangat agresif.

Menarik untuk diamati tentang sinetron politik dengan judul “pindah majikan” yang sedang dimainkan oleh Budi Arie, maruarar sirait dan maman Abdulrahman. Tentunya public telah mencium adanya gejala kesepian dari Jokowi yang mulai dijauhi oleh relawannya, karena tidak lagi memiliki ilmu kanuragan paska lengser dari kursi presiden.

Pelajaran yang patut diambil dari sinetron politik “pindah majikan”, adalah format loyalitas yang dibangun antara relawan dengan Jokowi, semata-mata hanya diikat oleh nilai pragmatism, sehingga tidak tumbuh sikap militansi dan setia tegak lurus kalangan relawan Jokowi.

Sinetron politik “pindah majikan” juga menyampaikan pesan moral, tentang penghianatan yang sama sekali tidak mencerminkan kultur “bangsa pemenang” .

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba
Populer Berita Opini