Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiwatch.id – Dalam suatu proses produksi, menghasilkan barang produksi yang bernilai ekonomis, tetapi juga menghasilkan residu dari proses produksi itu sendiri, yaitu limbah produksi.
Namanya limbah, adalah buangn yang biasanya tidak memiliki nilai, bahkan seringkali membahayakan bagi kehidupan manusia. Dinamika kehidupan sosial politik, kerap kali dapat dianalogikan seperti sebuah proses produksi dari industri.
Hasil dari interaksi sosial politik inilah yang dikenal dengan seleksi alam, menghasilkan manusia berdaya guna dan manusia reject. Di negara-negara maju, produk reject umumnya di daur ulang untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan yang membahayakan bagi kelangsungan kehidupan.
Dalam khasanah sejarah Indonesia, keberlangsungan proses kehidupan berbangsa bernegara, selalu diwarnai oleh tampilnya sosok manusia limbah peradaban. Mereka hidup dari mengais najis kekuasaan.
Mereka tidak sungkan berlindung dibalik topeng kesalehan, keteladanan dan kebersahajaan, walau sesungguhnya mereka lebih laknat dari malin kundang. Sejak era merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan, selalu hadir manusia limbah peradaban yang lebih dikenal dengan nama kuda troya penjajah.
Hari ini di tengah bangsa ini sedang berjibaku menghadapi pemimpin otoriter dan licik. Hari ini di saat bangsa ini sedang menata kembali, nilai-nilai kebangsaan sebagai perekat kedaulatan yang telah digadaikan oleh pemimpin sendiri, lahir sosok “pejuang matre” yang dengan kesadaran menjual harga dirinya demi syahwat duniawi yang sesaat.
Bagi yang mengenal sepak terjang Eggi Sudjana, mungkin tidak takjub melihat peristiwa Eggi bertekuk lutut dikaki sang “pendusta” Jokowi. Sesungguhnya peristiwa di atas, hanya mununggu waktu saja.
Oleh sebab itu bentuk pengkhianatan Eggi Sudjana adalah betrayal personality. Bukan disebabkan oleh situasi tertentu, tetapi sifat berkhianat sudah ada didalam diri Eggi Sudjana.
Kasus Eggi Sudjana bersimpuh di pangkuan sang Godfather Solo, adalah bentuk perilaku cacat nasionalisme. Mungkin jika digunakan pendekatan religi, patut disebut sebagai cacat aqidah.
Karena kisah pengkhianatan oleh Eggi Sudjana, dapat disejajarkan dengan kisah yang melibatkan kaum munafik seperti Abdullah bin Ubay yang membelot di Perang Uhud, pengkhianatan Bani Nadhir dan Bani Quraizhah yang bersekutu dengan musuh dalam Perang Parit.
Hingga pengkhianatan pribadi seperti Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh (penulis wahyu), dan Hatib bin Balta’ah yang membocorkan rahasia strategi ke musuh demi keluarganya. Pelajaran terbesar bagi bangsa Indonesia dari kasus Eggi Sudjana, adalah pentingnya keimanan dan kesetiaan dalam perjuangan. Janji Allah SWT itu pasti, berjalanlah dijalan yang diridhoi-Nya, niscaya kita selamat dunia dan akherat.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis










