Jakarta, Indonesiawatch.id — Beberapa tahun lalu, Ralph William Datoon hanya seorang remaja dari Quezon City yang gemar menulis lagu dan mengunggah video bernyanyi di media sosial.
Saat itu, tak banyak yang membayangkan bahwa pemuda yang kini dikenal sebagai Maki akan tumbuh menjadi salah satu musisi muda paling bersinar dari Filipina.
Perjalanan tersebut tidak datang dengan mudah. Pada usia remaja, Maki pernah mengikuti audisi ajang pencarian bakat The Voice Teens, namun gagal melangkah lebih jauh. Menjelang lulus kuliah, ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan dunia musik dan memilih jalan hidup yang berbeda.
Namun hidup memiliki rencana lain. Sebuah demo lagu yang ia rekam tanpa diduga justru sampai ke tangan tim label musik besar di Filipina, Tarsier Records, yang kemudian melihat potensi besar dalam dirinya. Dari situ perjalanan Maki dimulai.
Hari ini, namanya dikenal luas melalui lagu-lagu hits seperti Dilaw, Namumula, Bughaw, dan Kahel na Langit. Karya-karyanya telah diputar hampir 1 miliar kali di Spotify, menjadikan Maki salah satu nama yang paling bersinar dalam gelombang baru musik Filipina saat ini.
Yang membuat Maki berbeda bukan hanya angka streaming yang fantastis. Dari debut full albumnya berjudul “Kolorcoaster” yang dirilis pada September 2025, lagu-lagunya terasa dekat dengan kehidupan banyak anak muda hari ini.
Ia menulis tembang tentang jatuh cinta, patah hati, overthinking, kehilangan, hingga proses mencari jati diri, hal-hal yang sering dirasakan, tetapi tidak selalu mudah diungkapkan. Album ini menggambarkan perjalanan emosi yang naik turun layaknya roller coaster.
Dengan warna pop modern, city-pop, dan sentuhan alternatif yang hangat dan easy listening, musik Maki berhasil membangun hubungan yang kuat dengan para pendengarnya.
Tak heran jika namanya mulai mendapat perhatian dari berbagai institusi musik internasional, termasuk Grammy Awards yang memasukkannya dalam daftar 14 Pinoy Pop Acts You Should Know, serta Billboard Philippines dan Spotify yang menempatkannya dalam daftar The Future of OPM.
Menariknya, salah satu basis pendengar terbesar Maki justru berada di Indonesia. Saat ini, Indonesia menjadi negara dengan jumlah pendengar Maki terbesar kedua di dunia setelah Filipina. Sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa musik mampu melampaui batas bahasa dan negara.
Meski sebagian besar lagunya menggunakan bahasa Tagalog, banyak pendengar Indonesia tetap merasa terhubung dengan cerita yang ia bawakan. Bagi mereka, lagu-lagu Maki bukan sekadar musik, tetapi juga teman di berbagai fase kehidupan.
Popularitasnya di Indonesia kian menanjak melalui platform streaming, media sosial, hingga rekomendasi dari sesama penggemar. Dari situ, komunitas penggemarnya terus berkembang, termasuk para ZUSHI Indonesia yang aktif mendukung perjalanan kariernya.
Tahun ini menjadi babak baru bagi Maki melalui kesuksesan album debutnya, KOLORCOASTER, yang membawanya menjalani tur internasional ke berbagai negara.
Jakarta menjadi salah satu kota yang dipilih dalam rangkaian tur tersebut. Untuk pertama kalinya, Maki akan tampil di Indonesia melalui KOLORCOASTER Tour Jakarta yang akan berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026 di Bengkel Space, Jakarta.
Konser ini menjadi kesempatan bagi para penggemar untuk menikmati secara langsung lagu-lagu yang selama ini menemani playlist mereka, mulai dari Dilaw, Saan?, Namumula, hingga Kahel na Langit.
Bagi para ZUSHI Indonesia, ini adalah momen yang telah lama dinantikan. Kesempatan untuk bertemu langsung dengan sosok di balik lagu-lagu yang selama ini hadir melalui earphone, layar ponsel, dan berbagai momen dalam kehidupan mereka.
[red]











