Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Sejarah)
Jakarta, Indonesiawatch.id – Gagasan Menteri Kebudayaan Fadli Zon, untuk melakukan penulisan ulang narasi sejarah Indonesia, berpedoman pada penulisan sejarah Indonesia sentris.
Namun jika menelisik kerangka konsep penulisan sejarah Indonesia yang dikeluarkan oleh Tim Penyusunan Penulisan Ulang Narasi Sejarah Indonesia, menurut pandangan Batara Hutagalung pakar peneliti sejarah, ditemukan adanya penyimpangan besar, sehingga penulisan ulang narasi sejarah Indonesia patut diduga, adanya titipan dari kelompok tertentu, untuk merubah potret sejarah Indnesia sejak masa pra sejarah.
Kerangka konsep penulisan ulang sejarah Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusunan Penulisan Ulang Narasi Sejarah Indonesia, berpotensi menimbulkan kontroversial.
Pasalnya, kegiatan itu dihadapkan oleh begitu dominannya peran dan pengaruh China sejak masa pra sejarah, terhadap segala bidang kehidupan di nusantara yang sekarang bernama NKRI.
Dominasi pengaruh China meliputi peradaban, perdagangan, maritime, integrasi tradisi kepercayaan local dengan tradis leluhur china, seni keramik, arsitektur, tekstil dan akulturasi ritual unsur China, Hindu dan Lokal.
Selanjutnya pada era perlawanan terhadap VOC, dimasukan sejarah peristiwa “geger China” di Batavia pada oktober 1740. Namun dipihak lain perlawanan pribumi di daerah, terhadap belanda tidak dimasukan, seperti perang sunggal dan perang sisingamangaraja XII di Tapanuli selama 29 tahun, perang Palembang serta perang Sultan Nuku dari Tidore yang berhasil mengalahkan Belanda.
Mencermati kerangka konsep penulisan ulang sejarah Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusunan Penulisan Ulang Narasi Sejarah Indonesia, di bawah koordinator Kementerian Kebudayaan, dipandang memiliki potensi kerawanan, terhadap potret sejarah Indonesia kedepan, akan didominasi oleh pengaruh oriental.
Tampaknya kita tengah digiring kedalam kancah political, cultural dan historical warfare, dengan sasaran merubah wajah sejarah yang tidak merefresentasikan jati diri bangsa Indonesia. Kecenderungan diatas tentunya tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa, tetapi patut kita tempatkan sebagai vital interest dalam khasanah kehidupan berbangsa bernegara.
Penulisan sejarah kebangkitan nasional pada konsep penulisan ulang sejarah Indonesia, seharusnya mendapat porsi lebih besar, mengingat peristiwa sejarah kebangkitan nasional, merupakan tonggak strategis bagi terwujudnya semangat perlawanan nasional untuk merebut kemerdekaan, tetapi ironinya penulisan sejarah kebangkitan nasional hanya dimuat 2 halaman.
Demikian juga dalam penulisan sejarah perang merebut kemerdekaan Indonesia, hanya diberi space dua halaman. Belum lagi masih ditemukan kesalahan cukup fatal, dalam penulisan sejarah kebangkitan nasional dan perang merebut kemerdekaan.
Dihadapkan oleh adanya potensi kerawanan dalam konsep penulisan ulang sejarah Indonesia serta adanya indikasi “penyusupan” anasir lawan, dengan formulasi operasi intelijen secara terukur dan professional, menitik beratkan pada sasaran penyusun penulisan ulang sejarah Indonesia, dengan kemasan yang didominasi oleh ornament cina/oriental.
Oleh karenanya dibutuhkan katerlibatan semua elemen bangsa, untuk melakukan koreksi terhadap penulisan ulang sejarah Indonesia yang dapat merubah persepsi generasi muda Indonesia terhadap sejarah bangsanya sendiri.
“Jangan Sekali-Kali Meninggalkan dan Merubah Sejarah Indonesia, jika Kita Tidak Ingin Melihat Indonesia Tinggal Sejarah.”
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis











