Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiawatch.id – Menteri Kebudayaan Fadli Zon, menulis dalam buku catatannya, ditemukan ada 100 kebohongan Joko Widodo saat menjadi presiden RI. Diantaranya menurut Fadli Zon, di bidang pertanian Jokowi ingin membangun kedaulatan pangan, apalagi kondisi petani sangat terpuruk.
Tetapi yang terjadi, ketika petani panen, Jokowi justru mengimpor beras besar-besaran. Lebih aneh lagi, klaim Presiden Jokowi bahwa Indonesia sudah 3 tahun tidak melakukan impor beras. Padahal datanya selama kepemimpinan jokowi sejak 2014, selalu mengimpor beras.
Bahkan jumlah impor beras pada 2018 tercatat yang paling banyak, mencapai 2.253.824,5 ton atau senilai 1,03 miliar dolar AS.
Di sektor energi, Jokowi berjanji akan membangun pertamina lebih hebat dari Petronas Malaysia. Alih-alih Pertamina jadi hebat, malah menukik jatuh nyungsep karena beban utang dan mega korupsi.
Di bidang kesehatan, Jokowi janji akan bangun 50 ribu Puskesmas dalam kurun waktu lima tahun kedepan, tapi berakhir dengan kobohongan pula. Bahkan citra Jokowi dalam Pilpres 2014, dikemas dengan kebohongan sosok Jokowi sebagai presiden visioner melalui rekayasa mobil Esemka.
Belum lagi Jokowi ketika mengatakan, pembangunan IKN tidak akan gunakan APBN dan sudah datang ratusan investor asing yang tertarik untuk bangun IKN. Birahi Jokowi untuk berbohong, terus dipelihara ketika Jokowi mengklaim bahwa pembangunan IKN sudah mendapat persetujuan rakyat melalui wakilnya di DPR.
Dusta Jokowi terus bergulir, dengan menyatakan telah membangun lebih dari 191.000 km jalan desa, padahal itu adalah total jalan desa yang dibangun sejak Indonesia merdeka. Masih banyak dusta Jokowi untuk diurai satu persatu.
Di tengah umbaran kedustaan, ada hal luar biasa yang Jokowi lakukan saat masih menjadi presiden. Diantaranya Presiden Joko Widodo menegaskan, pemerintah terus memerangi informasi bohong alias kabar bohong atau hoax yang tersebar di media sosial.
“Saya kira sudah lama kita bertarung dengan yang namanya kabar bohong, yang namanya hoax itu, saya kira kita sudah bertarung lama dan ini terus-menerus,” kata Jokowi.
Fenomena kebohongan yang dilakukan Jokowi dalam perspektif psikologis, dapat digolongkan Mythomania (Kebohongan Patologis), berbohong dengan cerita yang berlebihan dan dramatis, seringkali merasa sebagai tokoh utama, dan mungkin mempercayai kebohongan mereka sendiri.
Penyebabnya adalah trauma masa kecil, rendahnya harga diri dan gangguan kepribadian. Mungkin lebih tepat jika menggunakan pendekatan Islam, untuk mengurai prilaku dusta Jokowi.
Dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat).
Peristiwa kebohongan yang terus terjadi berulang kali, maka sosok Jokowi lebih tepat jika disejajarkan dengan kaum munafiqin. Sangat memprihatinkan jika sifat dusta Jokowi, dilatar belakangi oleh rendahnya harga diri beliau, akibat trauma masa kecilnya.
Terkait soal ijazah Jokowi yang dengan ngototnya diklaim asli, akhirnya dibutuhkan kewarasan publik untuk tidak terus menerus menuduh sebagai ijazah palsu, karena sebagaimana dianalogikan, jokowi seperti ibu-ibu naik motor, ketika lampu sen ke kiri dapat dipastikan belok ke kanan.
Maknanya dalam soal kisruh ijazah, sesungguhnya Jokowi telah mengakui dengan caranya sendiri. Sehingga bisa jadi publik yang dianggap tidak tahu diri, tidak mampu membaca tanda-tanda “kejujuran” ala jokowi. Mohon maaf pak Jokowi atas kekhilafan publik yang tidak menghargai “kejujuran” ala Jokowi.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis








