Menu

Dark Mode
Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh Mayapada Suguhkan PET-CT dan SPECT-CT untuk Akurasi Diagnosis dan Deteksi Kanker Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

Opini

Arogansi Menkeu Baru Tunjukan Watak Pejabat Monarki

Avatarbadge-check


					Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: static.promediateknologi.id) Perbesar

Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: static.promediateknologi.id)

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Beberapa saat setelah dilantik, Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (PYS) memberikan keterangan pers yang kontroversial dan jumawa. Purbaya mengatakan “tuntutan publik yang tertuang dalam 17+8, hanya tuntutan sebagian kecil masyarakat yang hidupnya masih kurang, ketika nanti saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 %, maka tuntutan tersebut akan hilang dengan sendirinya, mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak”.

Pilihan narasi yang disampaikan Menteri Keuangan, merefleksikan pemikiran Purbaya yang amat materialistis. Purbaya lupa bahwa bangsa ini telah berpuluh tahun mengalami ketidak adilan dan keterasingan dari proses pembangunan yang hanya menguntungkan oligarki.

Betapa naif jika purbaya menyodorkan solusi pertumbuhan ekonomi sebagai obat mujarab meredam keresahan rakyat. Sementara pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 % sejauh ini masih jauh panggang dari api. Purbaya adalah sosok pejabat yang dibesarkan dilingkungan oligarki, oleh karenanya telah kehilangan kepekaan social, untuk merasakan apa yang sesungguhnya yang dialami rakyat.

Pernyataan purbaya yang mengatakan tuntutan 17+8 hanya suara sebagian kecil rakyat yang hidupnya kekurangan, semakin memperkuat dugaan bahwa purbaya adalah pejabat yang menempatkan kesulitan rakyat sebagai marjinal interest, lebih tepatnya purbaya adalah model pejabat di lingkungan pemerintahan monarki.

Ternyata perilaku Purbaya yang jumawa, juga melekat pada diri anaknya yang membuat pernyataan “bapaknya telah berhasil melengserkan sri mulyani agen CIA”. Pernyataan tersebut sesungguhnya telah membuka tabir kedangkalan wawasan anak Purbaya. Jangan-jangan sikap Purbaya tersebut, semata-mata untuk menutupi kedangkalan wawasannya dalam melihat problematik kehidupan berbangsa bernegara.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar

3 May 2026 - 19:19 WIB

Ilustrasi tagar.

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba
Populer Berita Opini