Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiawatch.id – Beberapa saat setelah dilantik, Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (PYS) memberikan keterangan pers yang kontroversial dan jumawa. Purbaya mengatakan “tuntutan publik yang tertuang dalam 17+8, hanya tuntutan sebagian kecil masyarakat yang hidupnya masih kurang, ketika nanti saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 %, maka tuntutan tersebut akan hilang dengan sendirinya, mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak”.
Pilihan narasi yang disampaikan Menteri Keuangan, merefleksikan pemikiran Purbaya yang amat materialistis. Purbaya lupa bahwa bangsa ini telah berpuluh tahun mengalami ketidak adilan dan keterasingan dari proses pembangunan yang hanya menguntungkan oligarki.
Betapa naif jika purbaya menyodorkan solusi pertumbuhan ekonomi sebagai obat mujarab meredam keresahan rakyat. Sementara pertumbuhan ekonomi 6 sampai 7 % sejauh ini masih jauh panggang dari api. Purbaya adalah sosok pejabat yang dibesarkan dilingkungan oligarki, oleh karenanya telah kehilangan kepekaan social, untuk merasakan apa yang sesungguhnya yang dialami rakyat.
Pernyataan purbaya yang mengatakan tuntutan 17+8 hanya suara sebagian kecil rakyat yang hidupnya kekurangan, semakin memperkuat dugaan bahwa purbaya adalah pejabat yang menempatkan kesulitan rakyat sebagai marjinal interest, lebih tepatnya purbaya adalah model pejabat di lingkungan pemerintahan monarki.
Ternyata perilaku Purbaya yang jumawa, juga melekat pada diri anaknya yang membuat pernyataan “bapaknya telah berhasil melengserkan sri mulyani agen CIA”. Pernyataan tersebut sesungguhnya telah membuka tabir kedangkalan wawasan anak Purbaya. Jangan-jangan sikap Purbaya tersebut, semata-mata untuk menutupi kedangkalan wawasannya dalam melihat problematik kehidupan berbangsa bernegara.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis











