Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiawatch.id – Sejak menapaki kakinya ke panggung politik kekuasaan, Jokowi memang tidak pernah sendiri. Dia selalu dikelilingi oleh para disainer kekuasaan yang profesional.
Mengapa sosok model seperti Jokowi amat diminati oleh para disainer kekuasaan. Hal ini cukup beralasan, mengingat publik mulai jenuh dengan wajah elite politik yang hedonism dan kerap melakukan flexing politik.
Sosok pemimpin yang merepresentasikan potret kelas bawah atau wong cilik, ternyata menjadi tren politik yang mendunia. Jokowi tampil ke panggung politik, ternyata berbarengan dengan kemenangan Obama sebagai presiden AS.
Keduanya diframing sebagai pemimpin yang mewakili kelas minoritas yang akan membawa harapan baru bagi pembangunan demokrasi yang pro rakyat. Tidak mengherankan jika Times memasang wajah jokowi sebagai cover majalah, dengan judul “new hope”.
Pembawaan Jokowi yang dikemas sederhana adalah antitesa dari kebanyakan pejabat Indonesia yang amat elitis. Portofolio Jokowi telah menghipnotis semua kalangan di negeri ini, sebaga sosok pembaharu.
Satu periode kepemimpinan Jokowi telah terlewati, publik masih menunggu dengan penuh harap, karena Jokowi dengan sihirnya belum juga merubah nasib rakyat. Ternyata ketika rakyat terlelap oleh irama nina bobo jokowi, tetapi Tuhan tidak pernah tidur.
Mulailah babak baru Jokowi, dimana tangan Tuhan mulai ikut terlibat untuk membuka lembar demi lembar, tabir gelap Jokowi. Tidak ada satupun kekuatan dunia, termasuk para disainer kekuasaan, untuk menghambat sepak terjang Sang maha kuasa.
Kosmetika politik kekuasaan mulai luntur dari wajah Jokowi. Diawali dengan citra pemimpin yang pro rakyat, Jokowi mengakhiri kekuasaannya dengan citra pemimpin otoritarian personality.
Dari tangannya telah lahir monster oligarki dan dinasti politik yang memporak porandakan pondasi demokrasi dan meluasnya enclave kemiskinan di Indonesia. Jokowi menjadi potret ironi seorang anak yang dilahirkan dari rahim reformasi, tapi menjadi besar sebagai malin kundang terhadap ibu pertiwi. 10 tahun kekuasaan sang malin kundang, tidak saja terampasnya warisan kekayaan ibu pertiwi, tetapi telah meninggalkan legacy budaya kebohongan dan penghianatan, merasuki kalangan pejabat negara dan sebagian lapisan masyarakat. Saat ini negara dalam bahaya, menghadapi terbelahnya bangsa ini.
Ramalan Jayabaya memberi sinyal dalam bentuk simbol-simbol, bahwa akhir dari kekuasaan Jokowi, pertanda berakhirnya sengkarut jaman kolobendu. Pilpres 2024 menandai era baru kekuasaan negara, dibawah kepemimpinan presiden Prabowo.
Tapi keraguan publik tidak dapat ditutupi, karena era baru kepemimpinan nasional, adalah buah karya sang maestro Jokowi, dengan memanfaatkan seluruh network kekuasaannya serta memainkan strategi politik sandera.
Oleh sebab itu, ramalan Joyoboyo tentang jaman kolobendu belum berakhir. Jokowi dengan ambisi liar politiknya dan dipengaruhi oleh prilaku otoritarian personality serta kuatnya pengaruh kosmologi jawa yang mengedepankan superioritas, masih terasa mengontrol kekuasaan pemerintah baru presiden Prabowo.
Bayang-bayang Jokowi dalam wajah pemerintahan Prabowo, adalah realitas politik kekuasaan, yang akan mempertajam jurang relasi kekuasaan dengan rakyat. Sebagaimana ungkapan viral dari produk iklan “apapun makannya minumnya tetap teh botol”, begitulah target operasi garis dalam Jokowi “siapapun presidennya, penguasanya tetap Jokowi”.
Strategi politik sandera adalah sebuah orkestra dengan dirigen Jokowi, terus melantunkan lagu “kejarlah daku kau kutangkap”. Hal ini menjadi sinyal bagi Prabowo, Jokowi hanya memberi dua pilihan, tetap menjadi tameng jokowi atau mati terhormat bersama rakyat. Untuk sebuah perubahan besar, kita harus berani melawan arus.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis











