Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Ekonomi

Ekonom Bhima Yudistira Menyayangkan Respon Menko PMK ketika Banyak Kelas Menengah Jatuh Miskin

Avatarbadge-check


					Ilustrasi banyak masyarakat kelas menengah Indonesia semakin miskin (Gambar: pexels.com) Perbesar

Ilustrasi banyak masyarakat kelas menengah Indonesia semakin miskin (Gambar: pexels.com)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy terkesan tidak peka terhadap banyaknya masyarakat kelas menengah yang turun kelas.

“Yang penting menjaga dampak dari kerentanan kelas menengah ini tidak sampai masuk ke ranah miskin, apalagi miskin ekstrem,” ujar Muhadjir.

Baca juga:
Dirut Pertamina Kecele, Awalnya Sempat Puji Deal Kontrak Suplai LNG PGN dengan Gunvor

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menyayangkan respon Muhadjir tersebut. “Sangat disayangkan statemen Menko PMK, padahal masyarakat kelas menengah yang turun kelas jadi rentan perlu menjadi perhatian,” ujar Bhima kepada Indonesiawatch.id, (03/08).

Menurut Bhima, acuan garis kemiskinan di Indonesia sebenarnya cukup rendah. Di Indonesia, warga dianggap miskin, jika pengeluaran per orang per bulannya paling banyak Rp582 ribu.

Sementara, menurut Bhima, masyarakat di Indonesia banyak yang berada di posisi nyaris miskin. Karena pengeluarannya berkisar Rp600 ribu per orang per bulan.

“Artinya, jika tekanan ke kelas menengah berlanjut, biaya hidup tak diimbangi pendapatan, maka orang miskin akan bertambah,” ujarnya.

Karena itu Bhima menyarankan, agar pemerintah tidak terfokus ke masyarakat miskin saja. “Jangan seolah hanya fokus ke miskin ekstrim, karena rentan miskin akan mengakibatkan banyak masalah jangka panjang,” katanya.

Menurut Bhima, semakin besar kelompok rentan miskin maka semakin besar Bantuan Sosial (Bansos) yang dibutuhkan. “Semakin besar biaya kesehatan juga,” ujarnya.

Baca juga:
Diusut KPK Sejak Lama, Kasus Akuisisi Maurel & Prom oleh Pertamina Ternyata Masih Penyelidikan

Di sisi lain, menurunnya kasta menengah jadi pertanda bahwa ekonomi Indonesia tidak sedang baik-baik saja. “Ada masalah serius di perekonomian. Bagaimana bisa jadi negara maju, Indonesia jelas terjebak pada pendapatan menengah (middle income trap),” katanya.

Akhirnya, sambung Bhima, periode bonus demografi di Indonesia menjadi sia-sia. “Bonus demografi jadi sia-sia karena kelas menengah susah cari kerja, dan pendapatan rendah. Bahkan turunnya kelas menengah jadi tanda Indonesia berisiko masuk ke krisis ekonomi,” pungkas Bhima.

[red]

Berita Terbaru

Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara

29 October 2026 - 11:18 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dalam perkara pengisian ulang gas portabel. (Fot: Ist.)

MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla

29 October 2026 - 10:07 WIB

Founder Milenial Silampari Institut (MSI), Aqil Maulidan (Dok. Indonesiawatch.id)

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).
Populer Berita News Update