Hal ini perlu dilakukan mengingat kilang masih membutuhkan gas sebagai bahan bakar kilang, untuk pengganti fuel oil.
“Sehingga fuel oil produk kilang tidak digunakan sebagai bahan bakar, akan tetapi bisa dikonversi menjadi BBM oleh unit process konversi RFCC dan pastinya ini akan meningkatkan profitabilitas kilang,” ujarnya.
Namun jika Pertamina NRE sudah menjalin kerjasama proyek, katanya, agar dapat menjalankan dua inisiatif tadi. “Sehingga betul-betul flare gas yang terbuang itu, sudah tidak bisa direcovery lagi oleh pihak kilang,” ujarnya.
Dia juga menghimbau, agar proyek tersebut tidak membuat Pertamina NRE boncos. Proyek harus menggunakan kajian yang komprehenshif.
“Karena beberapa manufacture yang datang maunya minta jumlah gas buang kontiniu stabil. Flare gas tidak dihargai dengan alasan, itu gas buang. dan kita diminta harus beli produk listriknya sebagai first priority. Hanya saja berapa harga gas buang itu juga masih sulit ditentukan oleh Pertamina,” ucapnya.
[red]






