Tantangan ketiga, teknologi gas turbin dengan dirty gas sebagai bahan bakar. Pihak manufaktur harus bisa memastikan kehandalan operasi gas turbin. Keempat, adanya fluktuasi flare gas yang dihasilkan kilang. Karena bergantung pada jenis crude oil yang diolah.
Menurutnya, semakin banyak komposisi crude jenis light yang diolah, maka akan semakin banyak produksi gas. Dengan begitu, kemampuan gas kompresor yang terpasang untuk menarik gas tersebut menjadi refinery fuel gas, menjadi berat.
“Sehingga sebagian gas akan terbuang ke flare untuk dibakar, agar tidak berbahaya terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya.
Baca juga:
SKK Migas: Kandungan CO2 Blok Gas South Andaman Aceh 3% – 4%
Menurutnya, ada beberapa insiatif yang telah dilakukan oleh kilang Pertamina, untuk mengurangi gas yang terbuang ke flare. Inisiatif pertama, mengatur komposisi crude yang diolah agar jenis light crude tidak berlebihan.
“Hal ini sangat ditentukan oleh tahapan perencanaan pengadaan crude dan ketersediaan crude yang ada di pasar. Terkadang available crude di pasar tidak selalu bisa memenuhi sesuai desain crude yang harus diolah di kilang,” katanya
Menurutnya, di hampir seluruh kilang, sudah dilakukan program crude blending di kilang untuk optimasi pengolahan crude sesuai desain kilang. “Sehingga diperoleh produk BBM yang valuable lebih banyak dan produk gas tidak berlebih sesuai dengan kemampuan peralatan kilang yang ada,” ujarnya.
Baca juga:
Medco Diduga Langgar Keputusan Rapat dengan SKK Migas
Lalu inisiatif kedua, memasang tambahan recovery gas compressor di kilang untuk menarik kembali kelebihan gas yang ke flare tersebut. “Sehingga flare gas yang terbuang dan dibakar, jauh lebih sedikit. Dan revovery gas flare digunakan sebagai bahan bakar kilang untuk boiler dan dapur (furnace),” ujarnya.
Di beberapa kilang juga, sudah ada upaya-upaya untuk memulihkan flare gas sebagai refinery fuel gas. Yaitu dengan memasang recovery gas compressor sehingga gas buang yang dibakar di flare dapat dikurangi.
Pria yang puluhan tahun bekerja di kilang ini mengatakan bahwa sebaiknya sebelum kilang memutuskan untuk melakukan recovery gas flare sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik, lebih baik dilakukan pemasangan compressor flare gas recovery.
Khususnya di kilang yang belum terpasang sama sekali. “Atau yang masih perlu improvement penambahan unit compressor flare gas,” ujarnya.
bersambung ke halaman selanjutnya






