Menu

Dark Mode
Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung Lawan Praktik Serakahnomics di Program MBG Melalui Koperasi Desa Merah Putih

Energi

Harga Bioavtur Pertamina Mahal, Sulit Komersial dan Bersaing

Avatarbadge-check


					Truk Tangki Pertamina mengangkut Bioavtur (SAF) (Foto: Pertamina). Perbesar

Truk Tangki Pertamina mengangkut Bioavtur (SAF) (Foto: Pertamina).

Jakarta, Indonesiawatch.id – PT Pertamina (Persero) mengklaim sudah mampu membuat bahan bakar jenis Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur untuk pesawat. Bahkan, produknya mau dipasarkan pada Bulan September 2024.

“Kita mau pasarkan SAF dalam event Bali International Airshow,” ujar Wakil Direktur Utama PT Pertamina Wiko Migantoro, di acara Press Conference Bali International Airshow, Jakarta, Senin (19/9).

SAF yang diproduksi Pertamina jenis Bioavtur J2.4. Artinya kandungan bioavturnya masih 2,4%.

Bioavtur tersebut diproduksi di RU IV Cilacap sejak 2021. Prosesnya dengan co-processing antara Avtur yang diolah dari crude oil dengan bahan baku Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO).

RBDPKO merupakan minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau. Kapasitas produksi mencapai 1.350 kilo liter (KL) per hari.

Sayangnya, berdasarkan dua sumber Indonesiawatch.id, harga RBDPKO mahal. Akibatnya membuat biaya pokok produksi Bioavtur juga menjadi tidak kompetitif, dibandingkan dengan avtur biasa.

Apalagi hingga saat ini belum ada satupun regulasi yang mengharuskan maskapai penerbangan menggunakan bioavtur. Kondisi ini ikut menyebabkan program Bioavtur semakin sulit dijalankan.

Menurut seorang eks petinggi Kilang Pertamina, sebenarnya sudah pernah ada rencana untuk membuat inovasi dengan mengembangkan salah satu Unit di Kilang RU IV Cilacap. Tujuannya untuk bisa menghasilkan SAF 100 dengan bahan baku campuran CPO, Use Coking Oil dan limbah sawit.

Kapasitas yang direncanakan ketika itu 6.000 barel per hari. “Terus planning upgrade selanjutnya tersebut juga sudah diselesaikan BED (Basic Engineering Design) dan FEED (Front End Engineering Design) saat itu. Tapi entah mengapa tidak diteruskan sampai sekarang,” ujar sumber Indonesiawatch.id itu keheranan, (20/08).

Berita Terbaru

Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung

18 February 2026 - 02:45 WIB

Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras (tengah) dan jajaran bersama pengurus Kong Miao Genta Kebajikan Pancoran Mas. (Sumber: Diskominfo Depok)

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)

Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi

15 January 2026 - 12:27 WIB

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) se-Kota Bandung serta Pemuda/i Kristen Kota Bandung pada hari ini melaksanakan aksi damai.

Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja

15 January 2026 - 12:11 WIB

Andreas Freddy Pieloor
Populer Berita Ekonomi