Karena harga RBDPKO mahal, sehingga menurut sumber Indonesiawatch.id, Bioavtur Pertamina sulit komersial dan diterima maskapai. “Sulit untuk komersial. Jadi kalau hanya riset atau uji coba agar kelihatan hebat, okelah. Tapi untuk komersialnya pasti sulit” katanya.
Sebaliknya, jika dipaksakan menjual Bioavtur dengan harga mahal, kata sumber tersebut, maka akibatnya maskapai lebih membeli Avtur dari Singapura atau Malayasia. “Avtur itu standar international, tidak sembarangan loh,” ujarnya.
Ketika dikonfirmasi, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan enggan menanggapi soal ketidaklayakan komersial karena mahalnya harga RBDPKO. “Tolong cek ke Bu Heppy Corsec. Tks,” respon Riva kepada Indonesiawatch.id.
Sementara Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari irit bicara tentang harga kemahalan BIoavtur Pertamina. Menurutnya, Bioavtur merupakan produk baru dan perlu evaluasi harga keekonomiannya.
“Kalo harga (Biaya pokok produksi) SAF, saya mohon maaf belum bisa menyampaikan, mengingat ini produk baru dan bukan BBM subsidi. sehingga kami masih melakukan evaluasi untuk harga keekonomiannya,” ujarnya kepada Indonesiawatch.id.
[red]
Ralat: Ada perbaikan pada frase, petinggi Kilang Pertamina menjadi eks petinggi Kilang Pertamina. Terimakasih







