Menu

Dark Mode
Sempat Ditolak Ajang Pencarian Bakat, Maki Kini jadi Musisi Filipina Paling Bersinar di Asia Tenggara Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia Pemulihan Limbah Kontaminasi B3 Blok Rokan Dinilai Lamban, CERI Sebut Kejahatan Negara Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

Opini

Indonesia Menuju Bangsa Gagal Budaya

Avatarbadge-check


					Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).
Perbesar

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Jakarta, Indonesiawatch.id – Budaya bangsa Indonesia, sebagai mahakarya para leluhur yang digali dari keragaman budaya lokal, terakumulasi menjadi sistem nilai dan norma kolektif yang mencerminkan jati diri dan identitas nasional.

Sadar akan kondisi Indonesia yang penuh dengan keragaman budaya, bahasa dan tradisi, maka hasil olah rasa para pendiri bangsa yang disepakati sebagai jati diri dan identitas nasional, amat mengedepankan nilai keseimbangan, toleransi dan gotong royong.

Oleh sebab itu, bangsa Indonesia dengan kepribadian nasional yang cenderung mengutamakan persatuan dan kebersamaan, tercermin dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.

Seiring berjalannya waktu, bangsa ini semakin terbebani, oleh derasnya arus nilai-nilai baru yang sama sekali tidak dikenal dalam khasanah budaya bangsa.

Sementara bangsa ini, tidak dibekali untuk membangun sikap deteren terhadap penetrasi asing yang kerapkali memberi dampak multidimensional terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

Potret semrawut interaksi sosial, yang sama sekali telah meninggalkan etika dan norma dalam budaya bangsa, menjadi tontonan keseharian yang disajikan berbagai media sosial.

Mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya oleh kita, kejadian seorang pemuda bau kencur, melecehkan tokoh bangsa sekaliber Tri Sutrisno atau seorang preman dengan congkak menghujat jenderal dan kepala daerah, tanpa merasa bersalah.

Belum lagi gaya hidup para pejabat negara bergelimang kekayaan, di atas penderitaan rakyat yang hanya berharap besok bisa makan. Korupsi tidak kunjung reda, korupsi telah menjadi bagian dari pekerjaan, bahkan korupsi telah menjadi ibadah fardu ain, mungkin juga telah dijadikan berhala baru oleh para pejabat eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Para penegak hukum, dengan ikhlas membiarkan dirinya menjadi dungu, karena kasat mata membela yang bayar. Kebenaran tergantung siapa yang mengatakan, sekalipun penuh kebohongan dan kepalsuan serta melanggar konstitusi, ketika itu keluar dari mulut mantan presiden, maka semua menjadi kebenaran.

Terbentuknya poros kekuatan politik, didasarkan oleh kesamaan latar belakang sebagai koruptor. Merebaknya politik dinasti, lebih tepat jika disebut sebagai budak syahwat kekuasaan, membabi buta memaksakan anak merebut kekuasaan.

Bangsa Indonesia kini sedang dihadapkan oleh dekadensi budaya dan moral yang semakin akut. budaya nasional yang membentuk kesadaran kolektif menjadi identitas bangsa, telah tersapu oleh gelombang orde reformasi yang terobsesi dan terbius ide barat tentang demokrasi dan hak asasi manusia.

Demokrasi ala reformasi, telah menjadikan bangsa ini sebagai bangsa penghujat dan pemarah. Demokrasi ala reformasi telah mengajarkan bangsa ini sebagai bangsa pecundang. Demokrasi ala reformasi telah mengajarkan bangsa ini menjadi bangsa curang. Demokrasi ala reformasi telah melahirkan pemimpin monster dan oligarki.

Tanpa disadari bangsa ini, sedang mengalami pendangkalan budaya dan kehilangan karakter serta jatidiri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, musyawarah dan menghargai perbedaan.

Cara pandang terhadap strata status sosialpun tidak lagi diukur dari keluhuran budi, kesederhanaan dan kesalehan, tetapi lebih kepada ukuran duniawi seperti kekayaan dan kekuasaan.

Bangsa ini sedang mengalami pergeseran tata nilai moral dan etika yang tidak lagi menggunakan tolok ukur budi pekerti warisan para leluhur. Jika tidak muncul kesadaran kolektif, untuk menghadapi tantangan pendangkalan budaya, kita tidak akan melihat Indonesia yang silih asah silih asih silih asuh, sebagai sebuah semboyan hidup yang lebih sacral dari ide HAM versi barat.

Sri radjasa MBA
-Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Tak Kunjung Melunasi Pembayaran, Direktur PT Adi Artha Karya Menghilang

11 June 2026 - 14:25 WIB

Direktur PT Adi Artha Karya, Bambang Adi S. (Sumber: Instagram)

Food Estate, Oligarki Sawit, dan Krisis Keadilan di Indonesia

28 May 2026 - 09:06 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo

14 May 2026 - 18:14 WIB

Aktivis Dorong KPK Usut Tuntas Dugaan Korupsi Muhammad Suryo.

Maruli Rajagukguk: Permenaker Alih Daya Inkonstitusional, Ancaman Baru Buruh

13 May 2026 - 14:11 WIB

Praktisi hukum Maruli Rajagukguk

Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

5 May 2026 - 07:04 WIB

Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek. Sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Populer Berita Hukum