Atas dasar itu, menurut Luthfiralda, metode pelepasliaran Halfway House menjadi salah satu opsi persiapan pelepasliaran hewan yang dilindungi. “Metode Halfway House bertujuan meningkatkan kemungkinan keberhasilan pelepasliaran, serta mempersiapkan hewan untuk mampu memenuhi kebutuhan dasar alaminya,” ujarnya.
Aspek ketiga yaitu langkah konservasi sepanjang hayat di kebun binatang dengan mempertimbangkan masa estrus (periode subur) pada hewan. Hal ini menjadi opsi yang paling terukur bilamana spesies tertentu tidak memiliki kualifikasi yang ideal untuk dilepasliarkan dan justru akan menimbulkan risiko bagi eksistensi spesies tersebut.
Menurutnya, tantangan pengelolaan keberlanjutan biodiversitas, khususnya pada spesies yang terancam punah, menjadi sebuah pekerjaan rumah yang harus disikapi secara serius oleh seluruh pihak. Karena itu, ujarnya, pengayaan pemahaman metodologi konservasi serta perluasan portofolio studi kasus pada ragam spesies menjadi sebuah keniscayaan.
“Yang perlu disikapi dengan dinamika fenomena alam yang saat ini terus terjadi secara progresif,” isi orasi ilmiahnya yang berjudul Upaya Konservasi Dalam Menjaga Keberlanjutan Biodiversitas Pada Tingkat Spesies, Terutama Spesies Terancam Punah dan Spesies Endemik: Studi Kasus Pada Lembaga Konservasi ex situ.
Luthfiralda menjadi Guru Besar Tetap pada Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dalam Bidang Biologi pada Ranting Ilmu/Kepakaran Konservasi Hewan Universitas Indonesia. Ia banyak menerbitkan jurnal penelitian di bidang Biologi dan Konservasi, baik di lingkup dalam negeri maupun luar negeri.
[red]






