Menu

Dark Mode
Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps

Opini

Jokowi & Otoritarian Personality

Avatarbadge-check


					Setelah terpilih sebagai presiden tahun 2014, potret Jokowi menghiasi cover majalah Time dengan judul “New Hope” Perbesar

Setelah terpilih sebagai presiden tahun 2014, potret Jokowi menghiasi cover majalah Time dengan judul “New Hope”

Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Otoritarian personality adalah kecenderungan psikologi dengan karakteristik utama, amat mementingkan kekuasaan dan dominasi serta selalu menempatkan diri sebagai tidak bersalah. Oleh karenanya sulit untuk introspeksi diri atau refleksi diri.

Otoritarian personality lebih mengedepankan sikap bermusuhan dan gemar menghukum orang lain, maka kerapkali muncul sikap sinisme, destruktif dan mengalihkan perasaan negative kepada orang lain. Konsep otoritarian personality awalnya dikembangkan oleh Theodor Adorno dan rekan-rekannya pada tahun 1950-an, sebagai cara untuk memahami faktor-faktor psikologis dan kekuasaan politik yang berkontribusi terhadap kebangkitan fasisme dan Holocaust.

Tidak dapat dipungkiri, tokoh-tokoh dunia yang memiliki karakter otoritarian personality, seperti Hitler, Stalin dan Kim Jong Un, telah merubah wajah dunia ke arah kehancuran. Akibat perilaku kekuasaannya yang cenderung menjadi sentral terhadap control kekuasaan dunia.

Indonesia selama 10 tahun terakhir di bawah kekuasaan Presiden Joko Widodo, harus diakui mengalami depresi politik, hukum dan ekonomi, akibat prilaku kekuasaan jokowi yang cenderung otoritarian personality. Jokowi selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, berambisi mengendalikan kontrol negara ditangannya.

Melalui politik sandera, Jokowi mengendalikan elite parpol papan atas, untuk tunduk di kaki Jokowi. Hukum telah dijadikan alat represif, untuk menciptakan kepatuhan semu terhadap kekuasaan jokowi. Legacy dari 10 tahun kekuasaan jokowi, telah meninggalkan benih konflik diantara anak bangsa yang berpotensi bangsa ini terbelah.

Otoritarian personality yang menjangkiti jokowi, telah menjadi pandemi yang melemahkan stabilitas nasional. Jokowi sama sekali tidak menunjukan sikap kenegarawanan, tetapi justru menempatkan rakyat sebagai musuh yang harus diberangus.

Jokowi justru dengan arogan melakukan propaganda sebagai sosok superior dan jumawa. Jokowi lupa bahwa people power adalah kekuatan dahsyat yang dalam sejarah kekuasaan di dunia, tidak ada yang mampu menghadangnya.

Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis

Berita Terbaru

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

9 March 2026 - 10:54 WIB

Koordinator TTI Nasruddin Bahar. (Sumber: AJNN)

Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif

2 March 2026 - 00:17 WIB

Ketua Umum DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat meninjau langsung ke pedangang daging babi, dan jauh lebih bersih daripada pedagang daging ayam. (Sumber: DPP Gamki)

Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

28 February 2026 - 15:24 WIB

Pemerintah Pusat Wajib Kembalikan Kewenangan Aceh Dalam Pengelolaan Minerba

Sudah Saatnya Mengganti Menteri Kesehatan

20 February 2026 - 18:23 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen

Lawan Praktik Serakahnomics di Program MBG Melalui Koperasi Desa Merah Putih

17 February 2026 - 12:57 WIB

Para siswa mengikuti kegiatan MBG (Sumber: diolah)
Populer Berita Opini