Menu

Dark Mode
Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi Pemerhati Militer: Siaga 1 TNI Sebagai Antisipasi Dampak Gejolak Timur Tengah Klarifikasi Berita RKAB 2026, APNI Bantah Pemangkasan Kuota Picu Tiga Smelter Kolaps Larangan Dagang Daging Babi di Medan, GAMKI: Walikota Jangan Diskriminatif Beda Nyali & Komitmen Komisi III DPR Mengusut PT Hasana dan Wilmar Grup

Energi

Kementerian ESDM: Investasi Adalah Kunci Tercapainya Target EBT

Avatarbadge-check


					Dirjen EBTKE Prof Eniya Listiani Dewi (Doc. Indonesiawatch.id) Perbesar

Dirjen EBTKE Prof Eniya Listiani Dewi (Doc. Indonesiawatch.id)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, pencapaian atau realisasi sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) baru mencapai 13,93% dari target capaian bauran EBT sebesar 19,5% hingga akhir tahun 2024.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Prof. Eniya Listiani Dewi menyebut, target bauran EBT sebesar 19,5% pada 2024 merujuk pada Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Nomor 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Eniya membeberkan sejumlah alasan kenapa capaian EBT baru mencapai 13,93%. Hal itu disebabkan karena investasi pada sektor EBT yang belum memenuhi target. “Salah satu bottleneck investasi adalah Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang menyebabkan proyek PLTP, PLTA, PLTS, senilai US$6,7 miliar terkendala,” ujar Eniya dalam acara Media Gathering Subsektor EBTKE, di Kantor Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Jakarta, pada Senin, 9 September 2024.

Dalam paparannya, Eniya mengungkap estimasi kebutuhan investasi untuk merealisasikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Energi Baru Terbarukan (PLT EBT) berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) hingga tahun 2025.

Diketahui, total kebutuhan kapasitas PLT EBT di Indonesia sebesar 8,2 Giga Watt (GW). Dari kapasitas tersebut dibutuhkan total investasi sekitar US$14,02 miliar. Kebutuhan tersebut mencakup pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM).

Baca juga:
Nuklir Masuk RUU EBET, Badan Organisasi Nuklir Ditargetkan Rampung Tahun Ini

Selanjutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm).

“Kalau kita lihat pada tahun 2024 ini [realisasi bauran EBT] baru 13,93%, penyebabnya karena investasi yang belum tercapai, lalu komitmen investasi tersebut dan infrastruktur yang kita dorong dan saat ini kita ingin pencapaian lebih jelas lagi,” katanya.

Menurutnya, tambahan investasi penting untuk menggenjot target bauran EBT. “Kita memerlukan investasi hingga US$14,2 miliar guna menaikkan kapasitas dari renewable itu hingga 8,2 GW. Dengan itu, kita bisa menaikkan bauran energi terbarukan tahun depan dari 13% menjadi 21%,” tutur Eniya.

Eniya menyebut, beberapa sumber-sumber energi terbarukan di Indonesia potensi ketersediaannya mencukupi bahkan dalam kondisi berlimpah. Misalnya potensi energi solar (3.294 GW), angin (155 GW), air (95 GW), arus laut (63 GW), BBN (57 GW) dan panas bumi (23 GW).

Selain mempunyai potensi yang besar sebagai base load, sumber EBT hampir tersedia di seluruh wilayah Indonesia. Ke depannya, pemerintah berencana menawarkan lima wilayah kerja panas bumi pada 2025 mendatang untuk Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE).

Wilayah kerja tersebut meliputi Gn Lawu (+-195 MW), Sipoholo Ria-Ria (+-35 MW) dan Cubadak – Panti (+-30 MW) dan 2 Tender Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), satu di Telaga Ranu (+-85 MW), dan Wapsalit (+-46 MW). “Kami berharap lima lokasi panas bumi tersebut dapat menarik investor untuk mengembangkannya,” kata Eniya.

Berdasarkan catatan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, tambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) EBT tahun 2024 ini sudah terealisasi hingga 241,06 MW dari target 326,91 MW atau sekitar 73,7% dari target tahun 2024. Padahal dengan optimalisasi sumber daya, Indonesia diprediksi mampu memiliki sumber EBT jumbo hingga menembus 3,6 Terra Watt (TW).

Prof. Eniya menambahkan, sumber energi yang mendominasi dari keseluruhan potensi yang ada di dalam negeri adalah energi surya. “Jadi, dari potensi kita seluruhnya 3,6 TW dan dari situ 3,2 TW dari solar (surya),” katanya.

Indonesia sendiri memiliki target Net Zero Emission pada 2060. Karena itu, pemerintah akan mengoptimalkan potensi EBT yang ada di dalam negeri sesuai dengan yang tertuang dalam PP Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) sebesar 367 GW.

Selain itu, sumber EBT yang dimanfaatkan untuk bisa mencapai target bauran EBT dalam negeri adalah dengan mengandalkan sumber energi surya, angin, air, hingga panas bumi. “Target [bauran EBT] naik terus sampai tahun 2060 akan terus menerus, sehingga potensi kita panas bumi kita genjot,” pungkasnya.

[red]

Berita Terbaru

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung

18 February 2026 - 02:45 WIB

Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras (tengah) dan jajaran bersama pengurus Kong Miao Genta Kebajikan Pancoran Mas. (Sumber: Diskominfo Depok)

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)

Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi

15 January 2026 - 12:27 WIB

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) se-Kota Bandung serta Pemuda/i Kristen Kota Bandung pada hari ini melaksanakan aksi damai.
Populer Berita Daerah