Selain itu, sumber tadi menjelaskan, dampak kerugian Pertamina yang muncul akibat kebakaran itu. “Bagaimana dengan kerugian Pertamina akibat kebakaran dan tidak diketahui pasti kapan bisa restrat up-nya. Bagaimana juga dengan crude yang menumpuk di tangki penampung dan jadwal kedatangan crude sesuai jadwal kilang beroperasi normal, dihitung bisa triliunan total kerugian yang bakal dialami Pertamina, imbuh dia dengan sedihnya,” katanya.
Sehingga, urai sumber itu, Pertamina dalam waktu dekat atau sudah akan terpaksa mengimpor BBM dalam jumlah banyak, dengan nilai tukar sudah mencapai Rp 16.400 per USD. “Bisa babak belur dong,” celetuk salah satu sumber Indonesiawatch.id.
Belum lagi Pertamina harus menghadapi banyaknya subkontraktor, belum dibayar oleh JO Hyundai EC, PT Rekind Tbk, PT Pembangunan Perumahan TBK dan PT ETI. “Bahkan yang menyedihkan ada yang sudah ulang tahun belum dibayarkan, makanya tak heran banyak demo-demo di sekitar kilang Balikpapan,” ujarnya.
Kondisi ini dapat memperlambat pembangunan kilang Balikpapan. Rencana peresmian kilang yang direncanakan akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersamaan perayaan HUT RI di IKN pada 17 Agustus 2024 nanti, terancam batal.
Menurut Corporate Secretary PT Kilang Pertamina Internasional, Hermansyah Y Nasroen insiden di salah satu bagian dari CDU IV Kilang Balikpapan saat ini masih dalam tahapan pemeriksaan pihak internal maupun eksternal perusahaan. Paralel dengan itu, Pertamina juga sedang melakukan proses perbaikan.
“Agar dapat segera beroperasi kembali. Dan dengan proses perbaikan ini bisa mengembalikan kapasitas pengolahan CDU IV kilang Balikpapan sesuai perencanaan 300 MBCD,” ujar Hermansyah kepada Indonesiawatch.id, (28/06).
Herman mengakui bahwa peristiwa kebakaran tersebut membuka peluang adanya perubahan rencana kerja dan biaya. “Yang mungkin terjadi harus dievluasi secara hati-hati dan cermat serta disetujui oleh seluruh pihak dengan tetap mengedepankan efisiensi dan efektivitas pelaksanaan proyek serta kepatuhan terhadap peraturan dan kesepakatan yang berlaku,” katanya.
Menurutnya, pelaksanaan proyek kilang Balikpapan menghadapi dinamika yang cukup bervariasi. “Sebagian merupakan faktor yang sudah diperhitungkan, namun tetap ada faktor tidak terduga dan uncontrollable,” ujarnya.







