Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Hukum

‎KontraS: Pemberian Amnesti 44 Ribu Narapidana Harus Transparan

Avatarbadge-check


					Ilustrasi narapidana. KontraS mengingatkan, pemberian amnesti 44 ribu narapidana harus transparan. (Indonesiawatch.id/Dok. Ditjenpas) Perbesar

Ilustrasi narapidana. KontraS mengingatkan, pemberian amnesti 44 ribu narapidana harus transparan. (Indonesiawatch.id/Dok. Ditjenpas)

Jakarta, Indonesiawatch.id – KontraS angkat bicara soal rencana pemerintahan Prabowo Subianto memberikan amnesti kepda 44 narapidana se-Indonesia.

Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, di Jakarta, Rabu, (18/12), mengatakan, kebijakan pemberian amnesti ‎harus transparan dan disertai reformasi sistem peradilan pidana secara menyeluruh.

Baca juga:
Indonesia-Iran Bahas soal Pemindahan Napi Narkotika ke Iran

Dimas menegaskan, proses pemberian amnesti kepada narapidana untuk mengatasi masalah kapasitas lapas yang berlebih (overcrowded) merupakan ekses atau akibat dari banyaknya regulasi yang punitif atau mengutamakan pendekatan pemenjaraan.

Lebih lanjut ia menyampaikan, pendekatan pemenjaraan tersebut
misalnya UU ITE yang memuat pasal-pasal “karet” serta UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang masih mengutamakan pendekatan pemenjaraan dibanding rehabilitasi.

KontraS menilai, kata Dimas, masih berlakunya berbagai undang-undang bernuansa represif, maka kejadian overcrowded tersebut tidak dapat dihindarkan ke depannya.

“Kami melihat bahwa niatan untuk memberikan amnesti secara massal tersebut harus disertai dengan mengutamakan pendekatan non-punitif,” katanya.

Selain itu, ‎harus menerapkan semangat untuk melakukan dan memberlakukan keadilan restoratif terhadap tindak pidana tertentu dalam penegakan hukum pidana.

‎KontraS menyampaikan respons tersebut menanggapi konferensi pers pemerintah yang disampaikan Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas; Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai; dan Menteri Koordinator bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra; di Istana Negara, Jakarta, Jumat, (13/12).

‎Mereka menyatakan rencana untuk memberikan amnesti atau pengampunan masa hukuman kepada kurang lebih 44 ribu narapidana di seluruh Indonesia.

Amnesti tersebut dilakukan dengan alasan kemanusiaan dan semangat rekonsiliasi serta akan “menarget” empat jenis narapidana atau warga binaan pemasyarakatan (WBP), yakni:

1. WBP dengan tindak pidana ITE terkait penghinaan kepada kepala negara.
2. WBP yang mengidap gangguan mental dan penyakit berkepanjangan.
3. WBP dengan kasus makar non-bersenjata di Tanah Papua.
4. WBP dengan kasus narkotika.

[red]

Berita Terbaru

Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara

29 October 2026 - 11:18 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dalam perkara pengisian ulang gas portabel. (Fot: Ist.)

MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla

29 October 2026 - 10:07 WIB

Founder Milenial Silampari Institut (MSI), Aqil Maulidan (Dok. Indonesiawatch.id)

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan

23 October 2026 - 12:36 WIB

Penasehat Khusus Presiden Datangi Sidang Gabriel di PN Jakarta Utara (Ist.)

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)
Populer Berita Hukum