Menu

Dark Mode
Marcella Santoso, Modus Penggunaan Buzzer & Halangi Proses Hukum Kasus Korporasi Besar Waspada Manipulasi Opini Publik Demi Operasi Penyelamatan Kerry Riza Chalid Rakyat Mendesak Presiden Hentikan Bisnis Wilmar Group di Indonesia Loyalis Prabowo Bocorkan Kemarahan Presiden kepada Kapolri Berikut Tahapan dan Anjuran Sleep Test dari Dokter Mayapada Hospital Menegakkan Keadilan di Kasus Hukum Wilmar Group

Opini

Salah Kaprah dalam Memperingati Hari Ibu

Avatarbadge-check


					Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Jogjakarta. Perbesar

Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Jogjakarta.

Jakarta, Indonesiawatch.id – Antusiasme masyarakat Indonesia dalam memperingati Hari Ibu 22 Desember, telihat dari bertebarannya baliho dan poster besar, dengan gambar seorang anak memberikan hadiah kepada sang ibu dan beredar berbagai ucapan hari ibu yang berisi ungkapan cinta kepada ibu.

Entah bagaimana mulanya peringatan hari ibu, menjadi sebuah momen ungkapan cinta kepada ibu. Bahkan hari ibu, adanya yang menyamakan dengan mother day di luar negeri. Hal ini telah menuai kritik kalangan ulama yang mengatakan bid`ah memperingati hari ibu.

Buya Yahya mengatakan tidak ada konsep Hari Ibu dalam Islam, karena ajaran Islam menempatkan ibu sebagai sosok mulia yang harus dihormati setiap saat, bukan setahun sekali.

Terjadinya pro kontra peringatan hari ibu 22 Desember, sesungguhnya karena sikap pemerintah yang tidak tegas, untuk meluruskan sejarah yang telah dimanipulasi. Mari kita kembali menengok kebelakang tentang apa yang terjadi pada 22 Desember.

Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I. di Jogjakarta. Kongres dihadiri oleh sekitar 1000 orang yang mewakili 30 organisasi perempuan. Tujuan kongres perempuan Indonesia yang pertama kali diselenggarakan, dalam rangka memperjuangkan hak-hak perempuan.

Pada kongres perempuan tersebut, juga dihadiri oleh tokoh pergerakan nasional seperti Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Dr. Soekiman (PSI), dan A. D. Haani (Walfadjri).

Fakta sejarah membuktikan bahwa 22 Desember, adalah untuk memperingati perjuangan perempuan Indonesia untuk memperoleh hak-haknya dibidang pendidikan, politik, ekonomi, social dan budaya. Oleh karena itu pada awalnya 22 Desember diperingati sebagai Hari Juang Perempuan Indonesia.

Salah kaprah peringatan Hari Ibu, sudah saatnya menjadi perhatian pemerintah, untuk meluruskan sejarah yang benar, agar generasi muda tidak dijejali oleh penulisan sejarah yang direkayasa dan dimanipulasi.

Karena penulisan sejarah yang benar, akan semakin memperkokoh jati diri bangsa dan sejarah dapat dijadikan senjata menghadapi konflik non militer.

Sri Radjasa MBA
Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Marcella Santoso, Modus Penggunaan Buzzer & Halangi Proses Hukum Kasus Korporasi Besar

13 February 2026 - 01:07 WIB

Waspada Manipulasi Opini Publik Demi Operasi Penyelamatan Kerry Riza Chalid

9 February 2026 - 10:46 WIB

Muhammad Kerry Adrianto (sumber: hukumonline.com)

Rakyat Mendesak Presiden Hentikan Bisnis Wilmar Group di Indonesia

5 February 2026 - 00:50 WIB

Pemerhati Intelijen, Sri Radjasa MBA.

Loyalis Prabowo Bocorkan Kemarahan Presiden kepada Kapolri

1 February 2026 - 15:47 WIB

Presiden RI, Prabowo Subianto (Foto: Antara Foto).

Menegakkan Keadilan di Kasus Hukum Wilmar Group

29 January 2026 - 11:28 WIB

Sri Radjasa MBA, Pemerhati Intelijen
Populer Berita Opini