Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Opini

Salah Kaprah dalam Memperingati Hari Ibu

Avatarbadge-check


					Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Jogjakarta. Perbesar

Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Jogjakarta.

Jakarta, Indonesiawatch.id – Antusiasme masyarakat Indonesia dalam memperingati Hari Ibu 22 Desember, telihat dari bertebarannya baliho dan poster besar, dengan gambar seorang anak memberikan hadiah kepada sang ibu dan beredar berbagai ucapan hari ibu yang berisi ungkapan cinta kepada ibu.

Entah bagaimana mulanya peringatan hari ibu, menjadi sebuah momen ungkapan cinta kepada ibu. Bahkan hari ibu, adanya yang menyamakan dengan mother day di luar negeri. Hal ini telah menuai kritik kalangan ulama yang mengatakan bid`ah memperingati hari ibu.

Buya Yahya mengatakan tidak ada konsep Hari Ibu dalam Islam, karena ajaran Islam menempatkan ibu sebagai sosok mulia yang harus dihormati setiap saat, bukan setahun sekali.

Terjadinya pro kontra peringatan hari ibu 22 Desember, sesungguhnya karena sikap pemerintah yang tidak tegas, untuk meluruskan sejarah yang telah dimanipulasi. Mari kita kembali menengok kebelakang tentang apa yang terjadi pada 22 Desember.

Sejarah menulis pada 22 Desember 1928, telah diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I. di Jogjakarta. Kongres dihadiri oleh sekitar 1000 orang yang mewakili 30 organisasi perempuan. Tujuan kongres perempuan Indonesia yang pertama kali diselenggarakan, dalam rangka memperjuangkan hak-hak perempuan.

Pada kongres perempuan tersebut, juga dihadiri oleh tokoh pergerakan nasional seperti Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Dr. Soekiman (PSI), dan A. D. Haani (Walfadjri).

Fakta sejarah membuktikan bahwa 22 Desember, adalah untuk memperingati perjuangan perempuan Indonesia untuk memperoleh hak-haknya dibidang pendidikan, politik, ekonomi, social dan budaya. Oleh karena itu pada awalnya 22 Desember diperingati sebagai Hari Juang Perempuan Indonesia.

Salah kaprah peringatan Hari Ibu, sudah saatnya menjadi perhatian pemerintah, untuk meluruskan sejarah yang benar, agar generasi muda tidak dijejali oleh penulisan sejarah yang direkayasa dan dimanipulasi.

Karena penulisan sejarah yang benar, akan semakin memperkokoh jati diri bangsa dan sejarah dapat dijadikan senjata menghadapi konflik non militer.

Sri Radjasa MBA
Pemerhati Intelijen

Berita Terbaru

Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara

29 October 2026 - 11:18 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dalam perkara pengisian ulang gas portabel. (Fot: Ist.)

MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla

29 October 2026 - 10:07 WIB

Founder Milenial Silampari Institut (MSI), Aqil Maulidan (Dok. Indonesiawatch.id)

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Waspadalah, Indonesia Memasuki Siklus Reset Peradaban

8 October 2026 - 17:08 WIB

Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen).

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)
Populer Berita Hukum