Menu

Dark Mode
Waspada Manipulasi Opini Publik Demi Operasi Penyelamatan Kerry Riza Chalid Rakyat Mendesak Presiden Hentikan Bisnis Wilmar Group di Indonesia Loyalis Prabowo Bocorkan Kemarahan Presiden kepada Kapolri Berikut Tahapan dan Anjuran Sleep Test dari Dokter Mayapada Hospital Menegakkan Keadilan di Kasus Hukum Wilmar Group OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

Hukum

Siswa SMA Binus Alami Bullying dari Anak Pejabat, Digebuk hingga Trauma

Avatarbadge-check


					Ilustrasi Perundungan (Doc. Pixabay) Perbesar

Ilustrasi Perundungan (Doc. Pixabay)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Seorang siswa SMA Binus School Simprug berinisial RE (16) melapor ke polisi setelah diduga menjadi korban bullying hingga harus masuk ke rumah sakit (RS). Korban disebut mengalami pelecehan seksual, dikeroyok bergilir, hingga mengalami trauma.

Kuasa hukum korban, Sunan Kalijaga, mengatakan pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Selatan. Laporan teregister dengan nomor LP/B/331/I/2024/SPKT POLRES METRO JAKSEL/POLDA METRO JAYA. Terlapor empat orang siswa Binus berinisial KE, R, K, dan C.

Sunan Kalijaga menerangkan, korban dan terlapor sama-sama siswa kelas 12 di SMA Binus School Simprug. Kejadian kasus bullying berlangsung dua hari berturut-turut, yakni tanggal 30-31 Januari 2024.

Berdasarkan keterangan korban, Sunan mengungkapkan, peristiwa bermula saat korban sebagai murid pindahan memulai hari pertamanya di Binus Simprug. Saat itu, korban didatangi oleh terduga pelaku yang kemudian menanyakan latar belakang korban.

“Dia bilang dia masuk situ sebagai anak baru. Lalu dari hari pertama masuk sudah mendapatkan bullying yang diduga dilakukan ada anak-anak pejabat, ada orang orang besarlah. Korban bilang saya enggak mau cari masalah, saya cuma mau seolah,” ujar Sunan.

Nahasnya, korban justru mendapatkan bullying secara verbal maupun nonverbal. Korban disuruh melakukan instruksi pelaku untuk mengerjakan ini-itu dengan dalih korban merupakan siswa baru. Bahkan korban diduga mendapatkan pelecehan seksual hingga dikeroyok secara bergilir oleh terduga pelaku di hadapan siswa lainnya.

Pihak korban mempertanyakan pengawasan pihak sekolah, lantaran dugaan bullying dilakukan dua hari-hari berturut-turut di jam sekolah. Atas penganiayaan yang diterima, korban langsung dilarikan ke rumah sakit.

“Kami selaku tim kuasa hukum dan mewakili orang tua korban sangat menyayangkan dan ingin meminta klarifikasi dari pihak sekolah. Kok bisa ada kejadian seperti ini berulang di dalam sekolah di waktu jam sekolah. Ini ke mana pengawasan guru dan sekuriti?” katanya.

Setelah kejadian, pihak keluarga korban meminta sekolah melakukan pembelajaran secara daring. Namun terduga pelaku masih melakukan bullying secara online kepada korban hingga akhirnya proses pembelajaran dihentikan.

“Si korban tetap mendapatkan bullying secara online. Sehingga ya sudah tidak online lagi sampai sekarang. Artinya, hal anak korban mendapat pendidikan, di mana ortunya selalu membayar tepat waktu uang untuk sekolahnya senilai puluhan juta itu tidak didapatkan,” ujar Sunan.

Terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Nurma Dewi mengkonfirmasi adanya pelaporan tersebut. Ia menyebut kasus bullying tersebut kini sudah naik ke tahap penyidikan.

“Iya, naik penyidikan. Terlapor empat orang,” kata AKP Nurma Dewi dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, 14 September 2024.

Nurma mengatakan status kasus naik ke tahap penyidikan setelah dilakukan gelar perkara. Dari hasil penyelidikan didapati adanya dugaan tindak pidana dalam pelaporan tersebut. “Ya, kalau tindak pidana, kalau lihat videonya, jelas, ada,” ujarnya.

Saat ini, kasus bullying terhadap RE masih berproses di Polres Metro Jakarta Selatan. Penyidik belum menetapkan tersangka karena masih dilakukan pendalaman terhadap kasus. Hingga saat ini, penyidik sudah memeriksa lebih dari 18 saksi dan melakukan serangkaian pendalaman.

Sementara itu, pihak Binus School Simprug melakukan investigasi terkait kasus tersebut. Hubungan Masyarakat (Humas) Binus School Education, Haris Suhendra memastikan tidak ada kasus bullying di lingkungan sekolah. Kasus yang terjadi menurutnya murni perselisihan antarsiswa.

“Sekolah telah melaksanakan investigasi berdasarkan bukti dan saksi, kami menemukan bahwa kejadian tersebut adalah perselisihan antarsiswa,” kata Haris Suhendra dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis, 12 September 2024.

Haris menegaskan pihak sekolah menanggapi laporan dari RE secara serius. Ia memastikan tak ada temuan yang mengindikasikan adanya bullying. Lebih lanjut, pihaknya juga sudah menindak tegas semua siswa yang terlibat dalam perselisihan tersebut. “Siswa telah mendapat sanksi berdasarkan fakta yang ditemukan dan sesuai dengan peraturan sekolah,” ujarnya.

[red]

Berita Terbaru

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.

Dugaan Pembiaran Kejahatan Wilmar, Bukti Negara Abai Terhadap Hak Rakyat

16 January 2026 - 17:12 WIB

Logo perusahaan Wilmar (Sumber: infosawit.com)

Bandung Masih Terjadi Intoleransi, Mahasiswa Turun Demonstrasi

15 January 2026 - 12:27 WIB

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bersama Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) se-Kota Bandung serta Pemuda/i Kristen Kota Bandung pada hari ini melaksanakan aksi damai.

Wahai Direksi Asuransi Jiwa, Jangan Hanya Kejar Kuantitas Premi Saja

15 January 2026 - 12:11 WIB

Andreas Freddy Pieloor

Boyamin Saiman Apresiasi Penyidik PMJ, Temukan Ponsel Kacab BRI

23 September 2025 - 16:22 WIB

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Bin Saiman mencari Riza Chalid di Malaysia (Foto: Ist.)
Populer Berita Hukum