Penulis Opini: Sri Radjasa MBA (Pemerhati Intelijen)
Jakarta, Indonesiawatach.id – Sebagai bangsa dengan sejarah hebat yang melahirkan para pahlawan bukan kaleng-kaleng, ternyata hari ini kita hanya korban tipu daya oknum pejabat negara, penegak hukum abal-abal.
Dalam setiap peristiwa besar mengguncang negara ini, dapat dipastikan rakyat menjadi korban terbesar. Kemudian rakyat pula yang dituding sebagai biang kerok terjadi rusuh massal. Seperti peristiwa aksi demo 25 Agustus – 1 September 2025 yang lalu, korban terbesar berada dipihak rakyat.
Akhirnya rakyat pula yang harus menderita ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan merusak, memprovokasi dan menjarah. Kini bukan saatnya lagi rakyat diam dan menyerahkan nasibnya di tangan penguasa yang sesungguhnya tidak lebih dari “sekawanan bandit”.
Mari dengan akal sehat kita urai siapa sesungguhnya otak udang dibalik aksi rusuh 25 Agustus 2025. Berawal dari berseliwerannya ajakan demo di laman media sosial, disinyalir diposting oleh “revolusi rakyat Indonesia”, berisi narasi gugat Jokowi dan makzulkan Gibran melalui mekanisme DPR.
Tetapi beberapa saat kemudian ajakan demo berubah narasi tuntutan menjadi “bubarkan DPR” yang disebar melalui youtuber nusantara dan Cokro tv. Ketika aksi demo meluas dan mengarah ke aksi anarkis, muncul gerombolan berseragam polisi, dengan kendaraan taktis melindas pengemudi ojol hingga meninggal.
Bersamaan dengan situasi terus memanas, terjadi pembakaran kantor dan pos polisi, kemudian beredar statement seorang wanita kesurupan arwah srikandi, dengan melontarkan kalimat “menghujat presiden Prabowo”, ternyata pernyataan wanita kader PSI tersebut, disambut dengan pernyataan dari Laskar Cinta Jokowi “mendesak presiden Prabowo mundur dari jabatannya karena gagal menjaga situasi stabilitas keamanan nasional”.
Dimana peran rakyat yang dianggap memicu dan memprovokasi terjadinya aksi anarkis . Tapi mengapa di akhir rusuh, selalu rakyat dikejar, ditangkap dan digebukin oleh mereka yang selalu mengklaim sebagai aparat keamanan, dengan mengatas namakan demi penegakan hukum dan undang-undang.
Amat kasat mata untuk mengurai siapa otak pelaku aksi demo anarkis kemarin. Di sana ada kubu genk Solo, ada oknum anggota DPR, ada oknum polisi. Apalagi yang ditunggu presiden Prabowo, ketika para gembong pelaku kerusuhan sudah berada di depan mata.
Masihkah presiden Prabowo mempertimbangkan kepentingan politik tetek bengek yang tidak ada kaitan dengan kemaslahatan rakyat. Apalagi yang harus diragukan oleh presiden Prabowo, ketika rakyat sudah memandatkan kekuasaan negara dan kekuasaan pemerintahan ditangannya. Dengarlah suara nurani rakyat, usut kasus yang menyebut nama Jokowi, ganti Kapolri, Panglima TNI dan Jaksa Agung yang telah menebar ketidak adilan.
Presiden Prabowo tidak perlu lagi bersembunyi dibalik retorika “politik sandera”, selalu dihantui oleh “terror abal-abal” dan aksi penjarahan rumah dari bekas presiden. Rakyat sudah mengeluarkan maklumat ultimatum “kejar bekas presiden hingga keliang lahat”.
It’s now or never, cukup sudah peristiwa kerusuhan yang lalu sebagai akhir dari episode Indonesia gelap, karena Indonesia milik rakyat yang selama ini tertindas, bukan milik keluarga bekas presiden.
Ingat rakyat adalah hukum tertinggi di negeri ini. Semudah membalik telapak tangan untuk melengserkan keprabon presiden. Semoga tidak ada gejolak lebih besar dengan alasan presiden tidak dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya, karena terjangkit Stockholm syndrome. Demi Indonesia lebih baik.
Notes: Opini atau tulisan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab penulis











