Menu

Dark Mode
Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah Daftar Kekayaan 7 Kandidat Kapolri Pengganti Listyo Sigit Prabowo Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

Opini

Waspada Pecah Konflik di Indo-Pasifik

Avatarbadge-check


					Pengamat Militer Wibisono (Istimewa) Perbesar

Pengamat Militer Wibisono (Istimewa)

Waspada Pecah Konflik di Indo-Pasifik

Oleh: Wibisono*

 

Saat ini terjadi perang terbuka antara Israel dan Iran, serta Rusia dan Ukraina, dua konflik antar negara ini dikhawatirkan menimbulkan perang regional yang memicu perang dunia ketiga.

Satu lagi yang perlu kita cermati adalah hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah memburuk dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir, diperburuk oleh pandemi. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Alaska menunjukkan ketegangan yang terus berlanjut, meskipun kedua negara telah mengisyaratkan bahwa mereka terbuka untuk bekerja sama dalam isu-isu yang menjadi kepentingan global.

Di tengah ketegangan ini, negara-negara di kawasan Asia-Pasifik berupaya mengelola dengan cermat kebutuhan untuk, di satu sisi, mengamankan kemitraan perdagangan dengan Cina, dan di sisi lain, menjaga hubungan keamanan dengan AS. Bagi bisnis Asia, hal ini menambah lingkungan risiko geopolitik yang meningkat.

Riset terbaru dirilis Lembaga think tank geopolitik terkemuka asal Australia, Lowy Institute. Lembaga ini mengungkapkan fakta bahwa ada ketegangan tinggi di Indo-Pasifik yang bisa menciptakan risiko perang.

Ini disebabkan oleh polarisasi kekuatan antara kubu Cina dan juga AS. Belum lagi perlombaan senjata di kawasan. Ini (bukan hanya) melibatkan AS dan Cina, tetapi juga melibatkan banyak pemain lain seperti: India, Jepang, dan negara-negara Asia Tenggara yang lebih kecil seperti Vietnam yang memiliki sengketa maritim dengan Cina.

Meski demikian, dari data yang sama terlihat bahwa setidaknya ada 26 negara terkuat di Asia Pasifik. Lowy menyebut bahwa AS masih menjadi negara paling kuat di kawasan.

Bagaimana Peran Indonesia?

Di riset yang sama, Lowy juga secara khusus menyoroti Indonesia. RI untuk pertama kalinya masuk dalam 10 besar negara terkuat di wilayah ini.

Hal itu akibat banyaknya negara dunia yang menganggap Jakarta sebagai pusat diplomasi baru kawasan ini, utamanya di wilayah ASEAN. RI naik peringkat dari sebelumnya, dengan skor 19,4 namun dengan tren kekuatan turun 0,5 dari tahun lalu.

Menarik! Indonesia untuk pertama kalinya mencapai posisi sepuluh besar dalam Indeks. Jakarta kini mengungguli Singapura sebagai pemain paling berpengaruh secara diplomatis di Asia Tenggara.

Indonesia berperan strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga kawasan pertahanan di wilayah Indo-Pasifik. Kita harus siap siap menghadapi segala risiko dan ancaman kekuatan AS yang selalu ambil peran dalan situasi negara yang sedang berkonflik.

 

*Penulis Pengamat Militer

Berita Terbaru

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).

Boyamin: Permintaan Pengembalian Aset Justru Menguatkan Dugaan Kepemilikan Febrie Adriansyah

20 August 2026 - 11:51 WIB

Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman.

Isu Ganti Kapolri Kian Kencang, Ini Kriteria Pengganti Listyo Sigit Prabowo

3 August 2026 - 15:43 WIB

Kapolri terlama sejak tahun 1960 (Sumber: museumpolri.org; diolah)

LBH Peradi Profesional: Polisi Dilarang Pakai Teknik Investigasi Terselubung di Tindak Pidana Migas

1 August 2026 - 07:58 WIB

Suasana sidang praperadilan Nomor 13/Pid.Pra/2026/PN.Jkt.Utr yang diajukan atas nama Gabriel Lumbantoruan (Ist.)
Populer Berita Hukum