Persoalannya, ajuan CO dari konsorsium nilainya mencapai USD 1,2 miliar. Dan angka tersebut tidak diterima PT KPI. “Yang disetujui oleh KPI cuma masih dibawah USD200 juta, itulah yang membuat Jo Konsorsium EPC RDMP tidak bisa menyelesaikan kewajibannya ke banyak subkontraktornya” ujar sumber Indonesiawatch.id lainnya.
Dugaan Penurunan Spesifikasi Proyek RDMP Balikpapan
Dalam kondisi JO konsorsium kesulitan cash flow sejak lama, patut diduga ada penggunaan peralatan atau pipa yang tidak sesuai spesifikasi. “Jangan-jangan, kita bisa duga, itulah penyebab pecahnya flunge pipa yang berdampak kebakaran hebat di sekitar CDU IV ketika proses start up sudah berlangsung sebelum tanggal 25 Mei 2024,” ujar sumber tersebut.
Dia mengatakan bahwa proses pra start up harus teliti betul dan harus bisa dipastikan aman betul sebelum start up. Kebakaran kilang Balikpapan kemarin juga bukan disebabkan faktor tidak terduga alias force majeure. Karena bukan akibat fenomena alam seperti petir, tsunami dan banjir bandang.
“Tetapi hal yang predictible, dugaannya kebakaran itu bisa terjadi karena kurang teliti dan cermat dalam quality control dan safety review sebelum start up serta kualitas equitmen harus menjadi syarat utama, hindari peralatan yang KW 2 dan KW 3,” katanya.
Indonesiawatch.id mencoba mengkonfirmasi pihak konsorsium RDMP Balikpapan. Sampai berita ini ditulis, hanya Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan (PTPP), Novel Arsyad yang merespon. “Bisa dikonfirmasi ke leader kami Hyundai. Karena kami member dari konsorsium,” kata Novel kepada Indonesiawatch.id.
Indonesiawatch.id juga sudah mencoba menghubungi Direktur Proyek Infrastruktur PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Kadek Ambara Jaya. Sayangnya Kadek tidak melayani pertanyaan dari redaksi agar satu pintu. “Sudah saya teruskan ke Pak Hermansyah Corsec PT KPI,” katanya.
[red]






