Sementara produk impor ini, sudahlah masuknya dibantuk oknum Bea Cukai, lanjut Redma, dari negara asalnya juga sudah melakukan praktik dumping, alias mengekspor produk dengan harga murah.
“Cina kan posisinya over supply. Kalau over suplly, dia akan jual dengan harga dumping. di sananya sudah murah karena dumping masuk ke sini enggak bayar pajak, enggak bayar PPN. Jadilah harga jual produknya murah. Sedangkan kami kan harus bayar pajak, harus bayar PPN. Artinya mereka menjualnya lebih murah. Kalau menjual lebih murah gimana kita bersaing. Akhirnya market kita itu mereka kuasai sangat besar,” katanya.
Anehnya, praktik culas impor ilegal dengan modus borongan ini sudah diketahui pemerintah dan aparat penegak hukum. “Cuma yang kami aneh, waktu pemerintahan yang lalu kenapa kok enggak pernah ditindak,” ujarnya.
Redma meyakini, bahwa praktik ini melibatkan banyak orang. “Kami sebutnya sebagai mafia ini. Soalnya sudah banyak pihak yang terlibat,” ujarnya.
Beberapa pihak yang terlibat adalah oknum Bea Cukai. “Enggak mungkin masuk barang jalur hijau masuk melenggang dengan gampang. Terus ada oknum-oknum di perusahaan logistik,” ujarnya.
Karena itu, Redma berharap Presiden Prabowo Subianto memiliki komitmen untuk memberantas oknum-oknum ini, termasuk oknum bea cukai yang culas. “Harus ada komitmen dari Presiden yang langsung turun untuk secara tegas, memberantas praktik ini,” katanya.
[red]







