Menu

Dark Mode
Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur Tagar, Kekuasaan, dan Defisit Mendengar Aktor Pelaku Kasus Andrie Yunus tidak Terungkap, Kepercayaan Publik pada Prabowo Bisa Turun PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Aceh Perlu Evaluasi Transparansi

Energi

Rupiah Semakin Nyungsep, Impor Minyak Jutaan Barel Setiap Hari, Devisa Terus Tergerus

Avatarbadge-check


					Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Doc. Sekretariat Kabinet) Perbesar

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (Doc. Sekretariat Kabinet)

Jakarta, Indonesiawatch.id – Mata uang Rupiah nyungsep ke posisi Rp16.312 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (19/12). Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah melemah 1,34% atau 215 poin.

Menyikapi kondisi ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menilai, pelemahan Rupiah berdampak pada sektor pertambangan dan energi.

Baca juga:
Alamak! Impor Minyak Mentah Melonjak 61,86% Pada Oktober 2024

Di sektor energi misalnya, kata Bahlil, Pertamina menjadi salah satu BUMN yang terpengaruh dalam pelemahan rupiah. Pasalnya, setiap hari Pertamina mengimpor jutaan barel minyak. Itu belum termasuk impor LPG.

Menurut Bahlil, impor minyak dan LPG dalam jumlah besar tersebut menyedot devisa sekitar Rp500-550 triliun per tahun.

“Nah di sektor ESDM memang salah satu yang membutuhkan dolar paling banyak itu adalah Pertamina. (Alasannya) kita ini mengimpor BBM kita termasuk LPG satu tahun, itu membutuhkan uang sekitar Rp500 triliun sampai Rp 550 triliun devisa kita keluar,” kata Bahlil, Kamis (19/12).

Selain itu, Bahlil juga mengakui nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS memberikan tekanan. Apalagi impor yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan energi, seperti Pertamina membutuhkan dolar AS.

“Dan itu pasti kita tukar dengan dolar. Nah terkait dengan urusan bisnis teman-teman ditambang karena spare part-nya kan harganya dolar pasti akan berdampak. Tapi kita lihat mudah-mudahan mampu di-manage dengan baik oleh pelaku usaha,” kata Bahlil.

Bahlil menilai pelemahan nilai tukar rupiah ini tak lepas dari kondisi ekonomi global yang masih tidak menentu. Lebih lanjut, Bahlil menekankan pihaknya tengah berupaya menekan impor di sektor energi.

“Sekarang tugas kita itu adalah bagaimana mengurangi impor agar kemudian kebutuhan kita terhadap dolar tidak terlalu banyak. Naik atau turunnya sebuah nilai mata uang itu kan tergantung hukum permintaan sebenarnya,” ujar Bahlil.

[red]

Berita Terbaru

Praktisi Hukum Ini Desak Presiden Prabowo Nonaktifkan Dirut KAI atas Peristiwa Duka Bekasi Timur

5 May 2026 - 07:04 WIB

Kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek. Sumber: ANTARA FOTO/Galih Pradipta

PBH AAI Jakarta Timur Kecam Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

15 March 2026 - 13:44 WIB

AKtivis KontraS, Andrie Yunus (Sumber: Kompas.id)

Komisi I DPR Dukung Pemberlakuan PP Tunas untuk Perlindungan Anak

11 March 2026 - 21:19 WIB

Perayaan Imlek 2026 di Kota Depok Berjalan Aman, Kapolres Turun Langsung

18 February 2026 - 02:45 WIB

Kapolres Metro Depok Kombes Pol Abdul Waras (tengah) dan jajaran bersama pengurus Kong Miao Genta Kebajikan Pancoran Mas. (Sumber: Diskominfo Depok)

OJK Soroti Maraknya Fraud Pencairan Klaim Asuransi Jiwa, Pelakunya Terorganisir

20 January 2026 - 05:45 WIB

Ilustrasi Gedung OJK.
Populer Berita Ekonomi