Menu ✖

Dark Mode
Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara Dosen UPN Veteran Jakarta Latih Petani Depok Olah Rambut Jagung Jadi Kombucha MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan Penasehat Khusus Presiden Sempat Datangi Sidang Gabriel, Minta Hakim Pertimbangkan Kemanusiaan Talkshow “Ada Apa dengan Negeriku” Soroti Kasus Ijazah dan Skandal Jiwasraya

Ekonomi

Waspada! Rupiah Semakin Anjlok

Avatarbadge-check


					Ilustrasi anjlok Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Perbesar

Ilustrasi anjlok Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.

Jakarta, Indonesiawatch.id – Rupiah anjlok dan beberapa hari ini mengalami tren pelemahan. Pada perdagangan Senin (16/12/2024) di pasar spot, kurs Rupiah terpantau melemah 37 poin atau sekitar 0,23 persen ke level Rp16.032 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah ini terpantau merupakan yang terendah sejak bulan Agustus 2024 lalu. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat kembali terpuruk ke level terendahnya dalam empat bulan terakhir.

Baca juga:
Dewan Gubernur Bank Indonesia Mau Rapat, BI Rate Stagnan atau Turun?

Menguatnya Indeks Dolar di pasar global membuat kurs Rupiah anjok bersama dengan mata uang utama dunia. Dalam laporan riset yang dirilis Senin pagi, Analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto menyebut potensi pelemahan Rupiah masih perlu diwaspadai.

Dia menyebut pelemahan nilai tukar Rupiah terutama disebabkan oleh sentimen global, terutama dari berlanjutnya tren kenaikan Dolar AS. Pasalnya, kenaikan Dolar AS yang terjadi sejak pekan lalu juga disertai dengan kenaikan imbal hasil surat berharga pemerintah AS atau US Treasuries (UST).

Sementara Indeks Dolar AS (DXY) pada hari Jumat (13/12/2024) ditutup di atas level 107, atau yang pertama kalinya selama lebih dari 2 pekan terakhir.

Imbal hasil UST tenor 2 tahun dan 10 tahun, selama sepekan naik cukup signifikan, masing-masing sebesar 14,1 basis poin (bps) dan 24,4bps, masing-masing ditutup pada 4,24 persen dan 4,40 persen. Sementara itu DXY naik 0,9 persen  (week on week/WoW) menjadi 107,0.

“Kenaikan imbal hasil UST dan DXY selalu berdampak negatif terhadap Rupiah, dan pada hari Jumat lalu Rupiah ditutup mendekati level 15.995, terdepresiasi 0,9 persen (WoW) terhadap Dolar AS,” kata Rully Arya kepada media.

Lebih lanjut Rully menjelaskan, persepsi mengenai arah suku bunga global akan selalu berdampak besar terhadap pasar mata uang, keluar masuknya arus modal asing, dan akan berdampak juga terhadap kinerja pasar saham.

Dia memperkirakan pelemahan Rupiah ini akan berdampak pada pasar saham. Investor asing berpotensi melanjutkan aksi jualnya yang pada akhir pekan lalu telah mencapai Rp1,39 triliun (net foreign sell).

[red]

Berita Terbaru

Perkara Isi Ulang Gas Portable, Gabriel Sihombing Divonis 6 Bulan Penjara

29 October 2026 - 11:18 WIB

Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis enam bulan penjara terhadap Gabriel Lumbantoruan alias Gabriel Sihombing dalam perkara pengisian ulang gas portabel. (Fot: Ist.)

MSI Desak Polda Sumsel Ungkap 20 Perusahaan yang Terindikasi Terlibat Karhutla

29 October 2026 - 10:07 WIB

Founder Milenial Silampari Institut (MSI), Aqil Maulidan (Dok. Indonesiawatch.id)

Asosiasi Driver Online Pertanyakan Perlindungan Pengemudi di Balik Kepastian Kemitraan

24 October 2026 - 01:36 WIB

Ilustrasi para pengemudi ojek online.

Eksepsi Ditolak Hakim, Perkara Rp500 Ribu Buruh Pabrik di Jakut Lanjut ke Pembuktian

4 September 2026 - 15:08 WIB

Tim kuasa hukum dari LBH Peradi Profesional (Ist.)

Aceh, Kemarahan, dan Defisit Mendengar Jakarta

21 August 2026 - 08:15 WIB

Ilustrasi kemiskinan di Aceh di tengah kekayaan Sumber Daya Alam (Sumber: Pembuatan gambar ilustrasi didukung AI).
Populer Berita News Update